Tag Archives: AJI Solo

AJI Solo Buka Pendaftaran Anggota Baru

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surakarta (Solo) membuka kesempatan kepada para jurnalis di Kota Solo dan sekitarnya (Soloraya) untuk bergabung dalam organisasi ini. Pendaftaran dibuka pada 17 Agustus 2018 hingga 17 September 2018.

Ketua AJI Kota Surakarta, Adib Muttaqin Asfar, mengatakan open recruitment ini merupakan kali pertama dilakukan oleh AJI Kota Surakarta. Biasanya, perekrutan anggota dilaksanakan secara personal, namun kali ini AJI membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para jurnalis untuk bergabung.

“Selain amanat Konggres ke-X AJI di Solo pada November lalu, pembukaan secara terbuka ini juga merupakan bagian dari cara AJI untuk memperkuat kampanye independensi jurnalis dan peningkatan kapasitas jurnalis. Kami mengajak semua pihak untuk belajar bersama dengan kami,” katanya, Kamis (23/8/2018), di Sekretariat AJI Kota Surakarta, Jl Srikatan II No 2, Gremet, Manahan, Solo.

Sementara itu, Sekretaris AJI Kota Surakarta, Crisna Chanis Cara, mengatakan ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dengan bergabung dalam AJI. Setidaknya, AJI Indonesia maupun AJI Kota Surakarta sering menyelenggarakan workshop untuk meningkatkan kemampuan jurnalis dalam menangani isu-isu tertentu, misalnya soal keamanan digital, verifikasi data, atau menulis konten yang baik.

Pendaftaran bisa dilakukan secara langsung atau online melalui situs ini, yaitu di menu Pendaftaran Anggota Baru AJI.

Syarat Pendaftaran:

1. Masih aktif melakukan aktivitas jurnalistik melalui media elektronik, cetak, internet, dan saluran lainnya.
2. Menyetujui AD-ART AJI (AD-ART AJI bisa dilihat di bagian bawah halaman ini)
3. Bersedia mematuhi Kode Etik dan Kode Perilaku AJI
4. Mengisi formulir dan mengikuti proses pendaftaran

Untuk informasi lainnya, silakan kontak kami melalui email aji.solokota@gmail.com (fast respons), atau melalui widget Wise Chat di halaman utama situs ini.

Digelar, Diskusi Soal Keamanan Digital

SOLO–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo akan menggelar diskusi soal Keamanan Digital (Seberapa Amankah Kita di Internet?) di Ruang Seminar Gedung J, Kampus II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (12/5) pukul 09.00 WIB-12.00 WIB. Relawan Safenet, Ika Ningtyas, dan pegiat AJI Solo, Syifaul Arifin, bakal menjadi pembicara dalam diskusi yang bekerjasama dengan Prodi Ilmu Komunikasi UMS tersebut.

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, mengatakan internet menciptakan berbagai kemudahan hingga peluang baru dalam bisnis, penyebaran ilmu pengetahuan, riset, dan informasi. Namun seiring kemudahan dan peluang baru, Adib menyebut ada tantangan besar tak terhindarkan bagi siapapun yang terkoneksi dengan internet. “Tantangan itu adalah ancaman terhadap keamanan setiap orang dalam setiap aktivitas digitalnya. Setiap orang yang terkoneksi internet bisa terpapar konten palsu (hoax), ujar kebencian, tindakan doxxing (pengambilan data secara ilegal), sampai ancaman persekusi di media sosial,” ujar Adib dalam rilisnya, Kamis (10/5).

Lewat diskusi nanti, Adib mendorong para pengguna internet mampu lebih cerdas dalam mengelola data pribadi agar tak disalahgunakan. “Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk masyarakat umum,” ujarnya.

Narahubung:

Chrisna (085647198717)

Nana (081229922602)

AJI Gelar Nobar “Silenzio Forcado”

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo akan menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film Silenzio Forcado (Forced Silence) di Monumen Pers Solo, Kamis (3/5) pukul 10.00 WIB. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara untuk memperingati World Press Freedom Day yang jatuh setiap 3 Mei.

Silenzio Forcado merupakan film dokumenter yang berkisah tentang ekosistem jurnalistik di Meksiko. Dalam kurun waktu yang panjang, kerja jurnalistik di Meksiko memang dikenal berisiko menyusul tekanan diktator hingga ancaman dari pelaku kriminal yang terorganisir. Reporter Without Borders bahkan melansir Meksiko sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi kehidupan jurnalis.

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, mengatakan pemutaran film Silenzio Forcado diharapkan bisa menjadi bahan diskusi maupun refleksi untuk memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia. Film berdurasi sekitar 25 menit ini akan mengekspos pengakuan sejumlah pekerja media di Meksiko baik dari dalam maupun luar negeri. “Pers di Indonesia sendiri belum sepenuhnya merdeka jika melihat banyaknya kasus ancaman yang diterima jurnalis saat bekerja. Padahal kebebasan media mestinya mendapat tempat dan perlindungan di negara demokrasi,” ujar Adib, dalam rilisnya, Rabu (2/5). Acara pemutaran film dan diskusi gratis serta terbuka bagi masyarakat umum.

Lindungi Pekerja Media di Era Transisi Industri Media

Peringatan Hari Buruh Internasional yang dirayakan hampir seluruh serikat buruh di dunia setiap 1 Mei seringkali tak dirasakan oleh para pekerja media. Saat ribuan anggota serikat buruh menghentikan rutinitas kerja demi turun ke jalan, sebagian jurnalis dan awak media tetap menjalankan tugas jurnalistiknya, termasuk meliput aksi para buruh.

Para jurnalis tak pernah absen meliput isu-isu perburuhan, setidaknya mengawal proses penetapan upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kota/kabupaten (UMK) setiap tahun. Para jurnalis pula yang mengawal kasus-kasus ketenagakerjaan, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) perusahaan yang pailit, masalah jaminan sosial, hingga tunjangan hari raya (THR) yang tak diterima sebagian buruh.

Tak terasa, para awak media juga merupakan bagian dari pekerja yang bernaung di bawah korporasi atau perusahaan media. Sama halnya dengan kalangan pekerja lainnya, para pekerja media juga rentan mengalami berbagai masalah ketenagakerjaan di samping risiko menjadi sasaran kekerasan dalam tugas-tugas jurnalistik.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat sedikitnya ada 17 kasus PHK di industri media hingga 2017. Dari 17 kasus itu, 11 di antaranya terjadi sepanjang tahun 2016 hingga akhir 2017. Frekuensi kasus ketenagakerjaan di industri media cenderung meningkat seiring meredupnya bisnis media cetak di Indonesia dan berbagai negara.

Berhentinya Harian Sinar Harapan mulai 1 Januari 2016 lalu menjadi alarm bagi industri media cetak. Meski sesungguhnya sebelum itu sudah ada perusahaan-perusahaan media lainnya yang menutup/mengurangi sebagian lini produk cetak mereka seperti The Jakarta Globe,Harian Bola, dan edisi Minggu Koran Tempo.

Di luar itu, sederet tabloid cetak yang dulu pernah jaya tutup satu demi satu. Sebagian perusahaan media mengalihkan fokus memperkuat lini produk online mereka. Namun kabar berlanjut pada pertengahan tahun lalu ketika Koran Sindo menutup sejumlah bironya. Terakhir di awal 2018, salah satu koran di Kota Surakarta menerbitkan edisi terakhirnya pada Sabtu (30/12/2017).

Kian mahalnya ongkos produksi media cetak dan perkasanya media sosial menjadi keniscayaan yang terhindarkan. Namun, para pekerja media harus dilindungi dari risiko masalah ketenagakerjaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Karena itu, AJI Kota Surakarta mengimbau hal-hal berikut:

1. Mengajak para jurnalis dan pekerja media untuk membentuk serikat pekerja di masing-masing perusahaan media, atau membentuk serikat pekerja lintas media jika memungkinkan. Hal ini penting demi memperjuangkan hak-hak pekerja media, termasuk di masa-masa sulit.

2. Mengimbau perusahaan media untuk sebisa mungkin menghindarkan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak atas nama efisiensi, termasuk selama masa transisi bisnis media massa dari cetak ke digital.

3. Meminta perusahaan media untuk tetap memenuhi hak-hak pekerja, termasuk upah layak jurnalis, dan jaminan sosial bagi awak media.

4. Meminta Dewan Pers bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk aktif melindungi jurnalis dan pekerja media terkait pemenuhan hak-hak mereka.

Solo, 30 April 2018

Pengurus AJI Kota Surakarta

Ketua

Adib Muttaqin Asfar

Sekretaris

Chrisna Chanis Cara

AJI Solo Ajak “Ngaji Bareng”

SOLO–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo meluncurkan program Ngaji Bareng yang bakal membahas isu-isu aktual kejurnalistikan hingga pengembangan kapasitas wartawan. Di edisi perdana Ngaji Bareng, AJI akan menggelar workshop dengan tema Verifikasi Data Media Sosial yang digelar di Sekretariat AJI Solo, Jl. Srikatan II No. 2, Gremet, Manahan, Banjarsari, Sabtu (21/4) mulaipukul 12.30 WIB. Kegiatan akan dipandu Syifaul Arifin, trainer dari Google News Initiative yang juga aktivis AJI Solo.

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, mengatakan pengetahuan tentang verifikasi data sangat penting di tengah banjir hoaks yang melanda media sosial maupun kanal-kanal pemberitaan. Setelah mengikuti workshop tersebut, Adib berharap publik mampu mengidentifikasi berita hoaks secara mandiri dengan meneliti sumbernya. “Kali ini kegiatan kami khususkan bagi jurnalis umum, pers mahasiswa dan bloger. Ke depan kami berencana menggelar acara serupa dengan melibatkan publik secara luas,” ujar Adib dalam rilisnya, Jumat (20/4).

Peserta workshop tak dipungut biaya. Mereka hanya diminta membawa laptop dan handphone sebagai penunjang kegiatan. Adib menambahkan program Ngaji Bareng bakal digelar rutin dengan tema-tema yang berbeda. Program ini ingin mendorong peningkatan kapasitas jurnalis di Solo dan sekitarnya.

Narahubung:
Adib : 085640288794
Nana : 081229922602