All posts by admin

Blog resmi AJI Solo atau AJI Kota Surakarta. Kami adalah sebuah organisasi nonpemerintah dan independen yang terdiri atas para jurnalis berbagai media, blogger, awak media independen di Solo dan sekitarnya. Menjadi bagian dari jaringan AJI seluruh Indonesia, AJI Solo selalu berkampanye tentang kekebasan pers, kebebasan berekspresi, profesionalisme, dan kesejahteraan jurnalis.

AJI Mengingatkan Tanggung Jawab Perusahaan Media Soal Kasus Covid-19

Hingga penghujung tahun 2020, Virus SARS-Cov-2 atau Virus Corona tipe baru penyebab Covid-19 belum juga berhasil ditundukkan. Secara global, virus ini telah menjangkiti hampir 80 juta manusia dan menewaskan 1,7 juta jiwa. Di Indonesia, jumlah kasus Covid-19 hampir menyentuh angka 700.000 kasus dengan korban meninggal lebih dari 20.000 jiwa.

Pandemi ini tak boleh dianggap sepele, termasuk oleh perusahan media dan para pekerja media yang setiap hari masih melakukan peliputan. Di tengah situasi krisis seperti saat ini, media sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi yang terpercaya dan melakukan literasi publik terkait pandemi.

Dalam melaksanakan tugasnya, para pekerja media sangat rentan tertular virus Corona. Pekerja media juga rawan menularkan virus tersebut ke orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga. Oleh karena itu, perusahaan media wajib memberikan perlindungan ekstra kepada para pekerjanya.

Berdasarkan hasil survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama International Federation Journalists (IFJ) pada 27 Oktober-13 November 2020, dari total 792 pekerja media yang menjadi responden, sebanyak 63,2 persen mengaku tidak dibekali alat pelindung diri (APD) dari perusahaannya. Hanya 36,8 persen responden yang menyatakan dibekali APD.

Riset juga menemukan bahwa masih sedikit media yang memberikan fasilitas rapid test maupun swab test (PCR). Sebanyak 63,8 persen responden mengaku perusahaannya tidak menyediakan layanan tes Covid-19 dan hanya 23,9 persen yang mengatakan ada layanan tes Covid-19.

Namun, yang tidak kalah penting adalah upaya pencegahan dan penanganannya. Apabila di lingkungan media diketahui ada pekerja media yang positif Covid-19, maka perusahaan media wajib melakukan tindakan segera dan menyampaikan kepada otoritas kesehatan guna kepentingan penelusuran kontak (tracing).

Mengingat tingginya risiko bagi pekerja media dan pentingnya media mengawal upaya penanganan Covid-19, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyampaikan sikap:

1. Mendesak perusahaan media untuk terbuka dan transparan jika terdapat pekerjanya yang terindikasi positif Covid-19. Selama ini media selalu mendesak pemerintah terbuka dalam menangani pandemi. Sudah seharusnya juga menerapkan prinsip yang sama jika ada kasus Covid-19 yang dialami pekerjanya. Sikap itu antara lain bisa ditunjukkan dengan mengumumkan situsi terkini kepada seluruh pekerjanya dan memberitahu otoritas bidang kesehatan atau Satgas Penanganan Covid.

2. Mendesak perusahan media segera bertindak jika ada pekerjanya yang terindikasi positif Covid-19. Pekerja yang positif hendaknya segera diusahakan untuk mendapatkan perawatan. Bagi yang diketahui punya kontak erat, diminta melakukan isolasi mandiri. Tindakan segera ini dimaksudkan untuk melindungi pekerja lainnya, keluarganya, narasumbernya, dan publik yang kemungkinan melakukan kontak dengan para pekerja media. Perusahaan media perlu ingat bahwa kesehatan adalah salah satu hak pekerja yang itu diatur dalam pasal 35 dan 86 Undang Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

3. Perusahaan media wajib menyediakan alat Pelindung diri (APD) dan fasilitas tes Covid-19 (PCR atau antigen) bagi jurnalis maupun pekerja media yang masih turun ke lapangan melakukan peliputan.

4. Demi keselamatan jurnalis dan pekerja media, perusahaan media perlu memperhatikan keamanan dari acara-acara yang akan diliput jurnalis. Untuk saat ini, cukup bijak jika perusahaan media tidak menugaskan jurnalis ke acara yang dihadiri orang banyak dan tidak memungkinkan untuk jaga jarak minimal 1,5 meter.

5. Untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan perusahaan, perlu ada disinfeksi secara rutin dan sesuai standar kesehatan di lingkungan kerja masing-masing.

6. Perusahaan media perlu memiliki protokol kesehatan dan membuat panduan peliputan yang aman untuk menjaga keselamatan para jurnalis dan pekerja media. Protokol tersebut mencakup langkah-langkah pencegahan dan penanganan jika jurnalis terinfeksi Covid-19. Selain memiliki protokol dan panduan peliputan, yang tak kalah penting adalah menerapkannya secara konsisten.

Jakarta, 25 Desember 2020

Ketua Umum AJI, Abdul Manan
Koordinator Bidang Ketenagakerjaan AJI, Wawan Abk

Pernyataan Sikap atas Insiden Peliputan Aksi di Kartasura

Semoga kita selalu dilimpahi kesehatan dan keselamatan.

Aksi demonstrasi besar-besaran menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di Bundaran Kartasura, Sukoharjo, yang diwarnai kericuhan, Kamis 8 Oktober 2020, berefek pada sejumlah jurnalis yang bertugas di lapangan. Beberapa jurnalis terkena gas air mata dan beberapa lainnya mengalami kerusakan kendaraan.

Dari data yang diterima Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta, ada dua jurnalis yang terkena gas air mata yang digunakan untuk membubarkan massa. Keduanya adalah Burhan Aris Nugraha, fotografer Solopos, dan Ronald, kontributor Suara.com.

Awalnya, demo berjalan seperti biasa dari berbagai arah menuju Tugu Kartasura. Namun tiba-tiba hujan deras membuat para jurnalis berteduh di Pospam Polisi di lokasi itu. Berdasarkan keterangan yang dibagikan Indah Septyaning, jurnalis Solopos yang juga meliput kejadian itu, dan Ronald, kericuhan mulai terjadi menjelang magrib saat peserta aksi memasang banner bergambar legislator berkepala babi, namun banner itu ditarik aparat.

Kericuhan pun pecah. Massa melempar botol dan batu ke arah Kantor BRI Kartasura tempat berkumpulnya aparat. Para jurnalis yang hendak mengambil gambar mengamankan diri ke area kantor BRI. Aparat pun melepaskan gas air mata hingga beberapa jurnalis terkena, begitu juga massa dan polisi.

Bentrok kedua pecah pada pukul 18.15 WIB saat para jurnalis keluar mengambil gambar dan video. Saat berlarian menghindari kericuhan, Indah jatuh di sela-sela tangga besi hingga memar dan kulit terkelupas.

Sementara itu, informasi sementara, dua sepeda motor milik jurnalis lainnya juga rusak. Belum diketahui siapa pelakunya. Ketiga motor tersebut adalah milik Triawati jurnalis Joglosemarnews.com, dan Fajar kontributor Viva.co.id.

Merespons insiden tersebut, kami menyatakan:
1. Mengecam siapapun yang melakukan pengrusakan terhadap fasilitas umum/pribadi dan kendaraan masyarakat, khususnya milik para wartawan/awak media.
2. Meminta kepolisian untuk menangani aksi massa secara cermat, khususnya dalam penggunaan alat untuk membubarkan massa, seperti gas air mata, water canon, dan sebagainya, agar tidak berefek terhadap para jurnalis yang meliput di lapangan.
3. Meminta semua pihak menghormati tugas para jurnalis yang sedang meliput di lapangan dalam situasi apapun.
4. Meminta para pimpinan media massa untuk melengkapi para jurnalis yang diterjunkan untuk meliput aksi unjuk rasa dan medan berisiko lainnya dengan alat pengaman standar, seperti helm, kaca mata pelindung, dan masker gas.

Solo, 9 Oktober 2020

Masih Ada Asap Rokok di Kampus Hijau

Sejak diluncurkan Oktober 2019 lalu, program Kampus Sehat diluncurkan Kementerian Kesehatan untuk mengoptimalkan pencegahan dan pengendalian penyakit, khususnya pada kelompok usia produktif di perguruan tinggi. Sebagai kampus percontohan, UNS didorong untuk mengeluarkan kebijakan yang mendukung dan menciptakan masyarakat kampus yang sehat dan produktif. Salah satunya adalah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai bagian dari terbentuknya kawasan Zero Tolerance.

Tidak hanya melarang iklan dan berbagai jenis bentuk penjualan produk rokok, perguruan tinggi diharapkan mampu mengintegrasikan budaya sehat sehari-hari di lingkungan kampus. Salah satunya membatasi ruang gerak aktivitas merokok. Hal ini bisa tercermin dalam kegiatan operasional sehari-hari, pengelolaan administrasi, dan kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan akademis lainnya.

Selain UNS, ada 3 perguruan tinggi lain yang juga ikut menjadi kampus percontohan program kampus sehat, yakni Universitas Andalas Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Indonesia.

Namun hingga saat ini UNS baru memiliki Kawasan Tanpa Rokok yang berlaku di wilayah Fakultas Kedokteran (FK) sesuai dengan SK DEKAN FK UNS Nomor : 7827/UN27.06/TU/2013 Tentang Penetapan Kampus FK UNS. Ini berarti wilayah selain FK UNS bukan merupakan wilayah Kawasan Tanpa Rokok.

Smoking Area Kampus

Meski program itu sudah berjalan sekitar 7 tahun, hingga kini aktivitas merokok di wilayah kampus masih mudah ditemui. Hal ini diungkapkan oleh seorang mahasiswa kedokteran, Kayyis Hawari, yang menyebut dirinya kerap melihat adanya aktivitas merokok baik itu dilakukan oleh civitas maupun non-civitas.

“Biasanya sih saya lihat di parkiran atas (dekat Gedung FMIPA UNS), itu ya beberapa kali ngeliat,” imbuh mahasiswa semester VI ini.

Ia juga mengungkapkan dirinya memiliki beberapa teman sesama mahasiswa kedokteran yang masih merokok. Meski dirinya bukan perokok aktif, ia sempat mencicipi rokok ketika duduk di bangku sekolah dasar dan mengaku trauma atas kejadian itu.

Selama ini, menurut Kayyis, sosialisasi KTR hanya ia terima ketika masa ospek dahulu. Saat itu dia diperkenalkan oleh panitia ospek tentang peraturan yang mengkhususkan larangan adanya aktivitas merokok. Tidak hanya aktivitas merokok, larangan juga berlaku bagi aktivitas lain seperti memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau.

Sementara itu, aktivitas merokok justru menjadi hal yang biasa di Kampus Fakultas Hukum (FH) UNS. Adalah Fadjran yang saat ini masih duduk di semester IV. Selain sebagai perokok aktif, ia bersama teman-temannya beberapa kali membeli rokok di kantin kampus. Seperti yang diketahui, kantin di kampus FH masih saja menjual rokok yang disimpan di lemari maupun di kotak/rak tertutup sehingga tidak terlihat dari luar secara langsung.

Meski mengaku sudah merokok sejak SMP, Fadjran sering memperhatikan lingkungan kala ia sedang menjejali batangan rokok ke bibirnya. Ia mengaku tidak merokok ketika ada anak kecil, ibu hamil, dan lingkungan bebas rokok.

FH sendiri memiliki ruang merokok yang diperuntukkan bagi civitas untuk merokok. Namun, tempatnya yang terbuka membuat Fadjran tidak pernah menggunakan fasilitas tersebut. Justru ruang merokok ini sering dipakai oleh pekerja yang sedang merenovasi bangunan di kampus. Ruangan yang terbuka memungkinkan asap rokok untuk dapat terbang bebas ke lingkungan kampus dan sekitarnya.

“Kurang layak gitu untuk tempat smoking area, kenapa enggak sekalian aja dilarang ngerokok seperti di FK. Toh UNS juga kampus hijau,” tambah Fadjran.

Kampus Sebagai KTR

Meski dirinya adalah perokok aktif, Fadjran justru sangat mendukung dengan adanya penerapan KTR terkhusus untuk seluruh wilayah kampus. Menurutnya, kampus merupakan fasilitas pendidikan sehingga perlu adanya perlindungan kesehatan untuk masyarakatnya dari asap rokok melalui KTR.

Ia merasa kampus perlu melakukan sosialisasi dengan memberi sarapan pagi gratis atau snack di siang hari. Selain mengapresiasi mahasiswa yang tidak merokok, dia menilai ini juga dapat menjadi pendekatan persuasif kepada para perokok aktif agar dapat mengganti rokok dengan snack yang disediakan.

Sebetulnya, Pemerintah Kota Surakarta sendiri melalui Perda No. 9 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok menjadikan perguruan tinggi menjadi sasaran area penerapan perda tersebut. Ini berarti tanpa adanya peraturan turunan maupun peraturan tambahan lainnya sekalipun, UNS secara otomatis merupakan KTR karena berstatus tempat belajar-mengajar.

Hal ini senada dengan pernyataan dr. Anung Sugihantono, M.Kes. dalam kesempatannya ketika menandatangani MoU dengan Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho, Rabu (16/10/2019). Saat itu dia menyebut masyarakat kampus dapat dijadikan contoh perilaku sehat untuk komunitas maupun lingkungan di rumah.

Selain fasilitas pendidikan, KTR meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum, dan tempat lainnya yang menjadi sasaran objek dari pelaksanaan perda tersebut.

Memang penerapan Perda KTR butuh waktu penyesuaian sekitar 1 tahun untuk dapat optimal dalam pelaksanaanya. Setelah disahkan, pemerintah melalui dinas kesehatan menggencarkan sosialisasi mengenai KTR yang dimulai dari UPT Puskesmas. Setelah itu dilanjutkan masing masing kepala organisasi perangkat daerah, penanggung jawab fasyankes, orgranisasi profesi kesehatan, persatuan apotek, klinik kesehatan, perwakilan agama, kepala stasiun dan terminal, televisi, radio, perguruan tinggi, pusat berbelanjaan, dan lain lain. (Firdaus Ferdiansyah)

Corona Mengancam, Aktivitas Merokok Jalan Terus

Aktivitas merokok tak berhenti meski pandemi virus corona menyerang. Kurangnya kesadaran dan anggapan lumrah budaya merokok masyarakat salah satu penyebab orang masih merokok di Solo.

Joni (22) salah satu perokok aktif di Solo mengaku masih sering merokok meski sudah mengetahui dampak bahaya merokok bagi kesehatan. Dalam sehari dia bisa menghabiskan 1 sampai 2 bungkus rokok. “Sudah biasa merokok sejak dulu, susah mau berhentinya. Di saat pandemi ini saya jarang merokok ” ujarnya, Sabtu (20/6).

Giano (60) salah satu pemilik toko kelontong di daerah Jebres mengaku dalam sepekan tokonya bisa menjual sekitar 20-30 pak rokok. Masih tingginya penjualan rokok membuat Sugiono selalu menyetok puluhan pak rokok di tokonya.

“Hampir setiap hari ada satu dua orang yang beli rokok disini, kebanyakan yang beli itu anak-anak remaja” terangnya saat diemui di tokonya, Minggu (21/6).

Disinggung terkait Peraturan Daerah (Perda) No 9/2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Surakarta, Joni dan Sugiono mengaku belum sepenuhnya memahami perda tersebut. Meski perda tersebut sudah disahkan dan mulai diterapkan sejak Agustus 2019.

“Saya kurang tahu, tapi saya lihat masih banyak yang merokok ditemat umum. Mungkin masih banyak juga yang belum tau seperti saya” tambah Sgiono.

Nana Shilvia (21) salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sangat menyanyangkan sikap masyarakat yang menurutnya masa bodoh dengan bahaya rokok. Ia mengatakan bahaya merokok tidak hanya berdampak pada diri perokok sendiri. Namun juga bagi orang-orang yang menghirup asap rokok atau sering disebut perokok pasif.

“Sangat disanyangkan masih banyak perokok di Solo. Padahal sudah ada perda KTR itu. Sebenarnya pecandu rokok masih bisa diobati dengan mengalihkan kebiasaan merokok dengan hal-hal yang lebih positif, seperti olahraga. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini,” pungkasnya.

Data Dinas Kesehatan Kota Surakarta menunjukkan masih banyaknya perokok di Kota Bengawan. Pada 2019, sekitar 43,3% keluarga masih belum bebas dari asap rokok. Fakta tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakara, Siti Wahyuningsih, dalam diskusi daring bertajuk Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020).

“Menurut saya resentase tersebut masih cukup tinggi, melihat bahwa Solo sudah menerapkan Penerapan Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR),” ujar Siti Wahyuningsih. (Septian Refvinda)

Puntung Rokok Berceceran di Jalan Kampung Jebres Solo, Salah Siapa?

Warga Kampung Gendingan RT 013/ RW 014, Jebres, Surakarta, mengklaim mayoritas penduduk setempat tidak merokok. Namun seperti umumnya di tempat lain, puntung rokok mudah ditemukan di titik-titik tertentu.

Ketua RT 13 Gendingan, Numboro Arih, mengungkapkan jumlah perokok di lingkungannya hanya 30%. Dari para perokok aktif tersebut, rata-rata adalah orang dewasa.

Di sisi lain belum ada rencana untuk pembentukan kampung bebas rokok. “Pemerintah Kota saja belum menegaskan wajib secara keseluruhan, jadi saya tidak akan membentuk kampung tersebut. Selagi mematuhi peraturan tidak merokok di tempat umum, saya tidak akan menegurnya,” tuturnya.

“Semoga masyarakat akan baik-baik saja, jaga kesehatan dan mematuhi peraturan yang ada,” tandasnya.

Warga kampung Gendingan memang belum mencanangkan pembentukan kampung bebas rokok, hanya saja terdapat peringatan larangan merokok di tempat umum. Pasalnya tidak ada pembahasan mengenai bahaya terhadap merokok bagi perokok aktif maupun pasif.

Soal puntung rokok yang berceceran, kata Arih, 80% karena ulah driver ojek online yang biasa nongkrong bareng menunggu langganan.

Direktur Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati, mengatakan saat melakukan aksi pungut puntung rokok pada akhir 2019 di beberapa Taman Cerdas di Solo, pihaknya menemukan 9.830 puntung dalam waktu 1 jam.

“Meskipun kawasan taman cerdas sebagai pusat anak-anak, ironisnya masih ditemukan banyak penjual rokok, yang merokok, puntung rokok dan asap rokok,” jelasnya dalam webinar Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (95/6/2020). (Fajar Nur Annisa)