aji.solokota@email.com 

aji.solokota@email.com

Perempuan Solo Lebih Banyak Terkena Hipertensi daripada Laki-laki, Kenapa?

Dinas Kesehatan Kota Surakarta merilis profil kesehatan yang dapat diakses secara publik melalui laman dinkes.surakarta.go.id. Data profil kesehatan dari tahun 2014-2018 menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh warga Surakarta.

Jumlah penderita hipertensi tiap tahunnya mengalami fluktuasi, namun ada hal yang tidak pernah berubah, yaitu jumlah penderita perempuan selalu lebih banyak dibanding laki-laki.

Di tahun 2014, total penderita hipertensi ada 46.555 jiwa. Dari jumlah tersebut, penderita laki-laki ada 18.180 jiwa. Namun, penderita perempuan ada 28.375 orang. Selisih 10.195 kasus. Di tahun 2015 dari total 53.636 penderita, 37.846 penderitanya adalah perempuan dan 15.790 sisanya adalah laki-laki. Selisih di tahun ini meningkat menjadi 22.056 jiwa.

Pada tahun 2016, total jumah penderita hipertensi mengalami penurunan menjadi 11.656 penderita. Namun penderita perempuan juga masih mendominasi, yaitu 7.076 penderita dan laki-laki 4.580 penderita. Selisih penderita di tahun ini ada 2.496 jiwa.

Di tahun 2017, jumlah penderita melonjak tajam menjadi 54.691 penderita, dengan penderita perempuan 37.361 jiwa dan laki-laki 17.060 jiwa. Selisih penderita pun juga melonjak tajam menjadi 20.301 jiwa. Melonjak 10 kali lipat dibandingkan tahun 2016.

Berlanjut ke tahun 2018, jumlah penderita turun kembali menjadi 45.702 jiwa dengan rincian penderita perempuan ada 29.090 jiwa dan laki-laki 16.612 jiwa. Selisih pada tahun ini ada 12.478 penderita.

Angka dalam data menunjukkan bahwa penduduk perempuan di Kota Surakarta lebih banyak terserang hipertensi daripada penduduk laki-lakinya.

Risiko Perokok

Dalam data tersebut tak disebutkan apa saja pemicu dalam kasus-kasus hipertensi di Solo. Namun berbagai literatur medis menyebutkan salah satu kelompok yang berisiko terkena hipertensi adalah para perokok, meski bukan satu-satunya.

See also  Ada Perokok, Banyak Keluarga di Solo Rentan Terinfeksi Covid-19

Dalam sebuah artikel yang ditulis dr. Alberta Jesslyn Gunardi. BMedSc Hons, di laman klikdokter.com, 20 Maret 2020, kebiasaan merokok juga dapat menimbulkan kerusakan jaringan di beberapa sistem organ tubuh. Salah satunya sistem kardiovaskular atau dikenal dengan sistem peredaran darah.

Sistem kardiovaskular ini terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan komponen darah itu sendiri. Menurut Alberta, nikotin di dalam rokok dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Ketika masuk ke dalam tubuh, nikotin akan memberi sinyal pada otak untuk melepaskan hormon adrenalin.

“Hormon ini akan membuat diameter pembuluh darah menjadi mengecil sehingga berisiko terjadinya peningkatan tekanan darah. Lebih jauh lagi, zat berbahaya tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada dinding pembuluh darah. Pada akhirnya, dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku (atau dikenal dengan istilah aterosklerosis). Kondisi ini juga berkontribusi terhadap naiknya tekanan darah,” tulis Alberta.

Selain nikotin, rokok juga mengandung tar. Ketika tar mengalir di dalam sistem peredaran darah, maka dapat memaksa jantung untuk memompa darah lebih kuat. Tekanan darah pun dapat meningkat. Tar juga terbukti dapat mempercepat proses aterosklerosis yang dapat meningkatkan tekanan darah.

“Kandungan karbon monoksida dalam rokok juga dapat meningkatkan kekentalan darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah. Di samping itu, karbon monoksida juga mudah berikatan dengan hemoglobin dalam darah,” lanjut Alberta.

Merokok bukan satu-satunya penyebab hipertensi. Namun merokok bisa meningkatkan risiko manusia terkena hipertensi. (Nimatul Faizah)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

aji.solokota@gmail.com