aji.solokota@email.com 

aji.solokota@email.com

Workshop Reformasi Sektor Keamanan

Media Harus Bisa Mendorong Reformasi Keamanan

Oleh :  Sika Nurindah

Sektor keamanan adalah sangat penting untuk ditegakkan dalam suatu negara. Isu keamanan tidak selalu dimaknai identik dengan dunia militer. Dalam perkembangannya, sektor keamanan terkait dengan sektor militer, politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karenanya, segala macam isu sosial kemasyarakatan selalu berhubungan dengan sektor keamanan.

Dilingkup lokal, berbagai permasalahan yang terkait sektor keamanan juga sering kali muncul. Sebagai contoh konflik antarwarga, kebijakan pembangunan pasar swalayan, isu terorisme, dan sebagainya selalu melibatkan aktor-aktor keamanan. Adapun yang termasuk sebagai aktor di antaranya pihak legislatif (DPRD), eksekutif (Pemerintah Kota), Kepolisian, dan TNI. Kesemuanya terlibat dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih demokratis, aman, dan sejahtera.

Dalam perjalanannya, kesemua aktor keamanan ini sering kali bersebrangan dengan kepentingan masyarakat sipil. Misalnya, institusi Kepolisian yang seharusnya berperan sebagai pengayom masyarakat, justru memunculkan opini negatif. Oleh karenanya memang perlu dilakukan perombakan atau reformasi secara total dalam tubuh para aktor tersebut.

“Di sini media mempunyai peran untuk mendorong terjadinya reformasi sektor keamanan. Sebab media memiliki fungsi mendidik, kontrol sosial dan juga hiburan,” terang Abdul Manan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dalam seminar dan workshop Reformasi Sektor Keamanan, di Riyadi Palace Hotel, Sabtu (31/10) hingga Minggu (1/11).

Diungkapkan, media melalui berita-berita yang disajikan, memiliki kekuatan luar biasa untuk mempengaruhi suatu kebijakan. Setidaknya media mampu memberikan gambaran cukup luas terhadap efek yang ditimbulkan dari setiap permasalahan. Secara umum dikatakan, media dapat mengambil salah satu peran dalam melakukan advokasi (pembelaan) terhadap kepentingan masyarakat.

“Oleh DPR, masyarakat masih dipandang sebagai penggembira. Hearing hanya sebatas formalitas. Oleh pemerintah justru dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi mereka,” terangnya. Oleh karena itu sudah sepantasnya media menjadi pengawal, pengontrol, pemantau, dan pengkritik dalam semua lini kehidupan kenegaraan atau kedaerahan.

See also  Pelajaran Rusdi Mathari: Karena Jurnalisme Bukan Soal Kecepatan

* Dimuat di Harian Joglosemar [02/11/2009]

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

aji.solokota@gmail.com