Tag Archives: kawasan tanpa rokok solo

Perokok: Candu Rokok Paling Besar Adalah Gengsi

Kebiasaan merokok di kampus IAIN Surakarta menghinggapi berbagai kalangan, baik dosen maupun mahasiswa, termasuk mahasiswa baru atau yang baru saja lulus SMA. Dalam observasi yang dilakukan oleh penulis pada Minggu (14/6/2020) terhadap 74 mahasiswa dan dosen IAIN Surakarta, 9 di antaranya adalah perokok aktif.

Salah satu dari perokok itu berumur 17 tahun. Selain itu ada 8 orang dosen yang merokok dan selebihnya hanya merupakan perokok pasif.

Mereka yang tidak merokok ini mendesak agar aktivitas merokok dilakukan di luar ruang kelas, khususnya saat kegiatan belajar berlangsung. Sebagian perokok memang merokok di sekitar ruang kelas, meski sebagian lainnya menyingkir ke Cafe Bujosh, dekat Kampus IAIN Surakarta, Pucangan.

Padahal berdasarkan pasal 50 Peraturan Pemerintah (PP) No 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Prodik Tembakau Bagi Kesehatan, salah satu kawasan tanpa rokok adalah tempat proses belajar mengajar. Artinya, kampus masuk dalam kawasan bebas asap rokok.

Mahasiswa yang merokok juga berharap adanya tempat khusus merokok (smoking area) di Kampus IAIN Surakarta. “Sebaiknya, di IAIN Surakarta ada tempat khusus area bebas rokok atau smoking area, biar tidk ada yang dirugikan,” kata TA, 17, melalui Whatsapp.

Kementerian Kesehatan menyebutkan sekitar 4.000 zat kimia dalam asap rokok yang beracun bagi tubuh dan di antaranya menimbulkan efek candu. Namun bagi TA, kecanduan merokok bukan hanya karena kandungan rokok, tapi juga gengsi.

“Kecanduan yang berasal dari rokok batangan sedikit sekali rasa candunya, yang berat meninggalkan rokok itu karena gengsi,” kata TA.

Meski menyadari adanya candu, TA masih saja merokok. Padahal kecanduan rokok juga berefek terhadap kesehatan para perokok itu sendiri. Kathleen L Yaremchuk, dokter telinga, hidung, dan tenggorokan dari Henry Ford Hospital di Detroit, Amerika Serikat, mengatakan bahwa selaput hidung dan sinus terus menerus menghasilkan lendir, sebagai selimut pelindung seluruh sistem pernapasan.

“Lapisan hidung dan sinus sama dengan lapisan di paru-paru. Ada silia, atau struktur kecil seperti rambut yang membersihkan hidung, sinus, dan paru-paru, dari partikel-partikel udara, bakteri, dan lendir,” kata Yaremchuk dikutip Liputan6.com dari Everyday Health.

“Merokok menyebabkan silia berhenti bekerja, yang membuat perokok menjadi lebih rentan terhadap infeksi pada paru-paru dan sinus,” tambahnya. (Yuni Firdaus)

“Masih Ada Asbak di Tempat Ibadah”

Merokok masih menjadi aktivitas yang dilakukan sembarangan di Kota Solo. Penerapan Peraturan Daerah (Perda) No 9/2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Kota Solo pun masih menyisakan banyak pekerjaan menjelang 1 tahun pascapengesahannya.

Masih banyak kawasan yang seharusnya steril masih diwarnai aktivitas merokok dan penjual rokok. Bentuk pelanggaran itu bermacam-macam, mulai dari orang merokok di lingkungan sekolah sampai yang ekstrem: adanya asbak di tempat ibadah.

Perda KTR di Kota Solo memang belum secara efektif diterapkan, khususnya sanksi pidana bagi para pelanggar. Ini karena sanksi baru efektif berlaku mulai Agustus 2020 mendatang atau tepat satu tahun sejak Perda KTR Solo ditetapkan.

“Ada puntung rokok, meskipun tidak ada iklan rokok. Bahkan masih ada asbak di tempat ibadah, seolah-olah memfasilitasi.”

Sementara itu, hasil monitoring Yayasan Kepedulian Untuk Anak (Kakak) dan Forum Anak di 80 KTR di Kota Solo menunjukkan banyaknya pelanggaran. Pelanggaran tersebut ditemukan di banyak tempat yang seharusnya bebas dari asap rokok, seperti taman cerdas, angkutan umum, sekolah, fasilitas kesehatan, kantor kelurahan, dan tempat ibadah.

“Kami lakukan monitoring pada 2019 [Desember] dan 2020 [Juni] kamui lakukan lagi,” kata Direktur Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati, dalam webinar bertajuk Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020), lalu.

Taman Cerdas

Monitoring itu dilakukan di berbagai KTR, seperti 4 taman cerdas, 8 angkutan umum, 10 fasilitas pelayanan kesehatan, 35 sekolah, 15 kantor kelurahan, dan 8 tempat ibadah. Tempat-tempat itu menjadi representasi 6 jenis KTR di Solo.

“Kita tahu taman cerdas di Kota Solo ini jadi role model di Indonesia, karena Solo ini Kota Layak Anak kategori utama,” kata Shoim menyindir status Solo sebagai Kota Layak Anak.

Monitoring yang melibatkan anak-anak ini menemukan fakta-fakta pelanggaran di hampir semua KTR di Solo. Mereka memantau apakah ada perokok di kawasan itu, apakah ada penjual rokok, bau sisa asap rokok, puntung rokok, promosi produk rokok, tanda larangan merokok, atau tempat khusus merokok.

Shoim menekankan fakta pelanggaran di empat taman cerdas. Bagi dia, itu ironis mengingat taman cerdas adalah salah satu simbol kawasan ramah anak.

“Taman cerdas terbaik itu di Kota Solo, Kota Solo sebagai kota ramah anak utama. Masih ada orang menjual rokok di situ. Di sana, 75% memang sudah ada tulisan dilarang merokok. Tapi di bawahnya ada bapak-bapak merokok dengan santai,” kata dia.

Selain itu, tim monitoring juga menemukan ada aroma bekas asap rokok dan banyak puntung rokok. Bahkan dalam kegiatan aksi pungut puntung puntung rokok di empat taman cerdas, mereka menemukan ribuan puntung rokok.

“Hasilnya ada 9.350 puntung rokok di beberapa tempat, dan itu hanya dilakukan dalam waktu 1 jam. Itu hanya untuk menunjukkan ada orang merokok di sana,” ujarnya.

Kondisi serupa juga ditemukan di angkutan umum. Mereka menemukan masih banyak orang merokok di dalam mobil angkutan, baik sopir maupun penumpang. Dalam penghitungan tim, 50% angkutan umum masih ditemukan orang merokok di dalam.

Pelanggaran juga terjadi di tempat ibadah. Padahal, tempat ibadah identik sebagai tempat yang lebih bersih daripada tempat umum lainnya.

“Padahal kalau mau dilakukan sangat mudah. Misal kalau di masjid ada takmir. Tapi memang karena baru Agustus 2019 disahkan, butuh waktu untuk penguatan,” lanjut Shoim.

Di berbagai tempat ibadah yang dimonitor, tim menemukan masih minim tanda larangan merokok. Bahkan masih ditemukan orang merokok di tempat ibadah lantaran tak ada tanda larangan merokok.

“Ada puntung rokok, meskipun tidak ada iklan rokok. Bahkan masih ada asbak di tempat ibadah, seolah-olah memfasilitasi,” kata dia.

Kantor Kelurahan

Lalu bagaimana dengan kantor kelurahan yang merupakan bagian dari pemerintahan? Situasinya tak jauh berbeda. Ketika anggota tim monitoring menanyakan apakah ada yang merokok di sana, para pegawai setempat menjawab tidak ada.

“Tapi banyak puntung rokok di sana. Ada orang merokok di sana, ada asbak disediakan. Tapi memang 60% sudah ada tanda larangan merokok.”

Aktivitas merokok juga masih merambah fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. Shoim tidak menyebutkan puskesmas atau klinik mana yang dimonitor. Namun dia memastikan masih ada pelanggaran berupa orang merokok di dalam lingkungan pagar kawasan itu.

Yang paling memprihatinkan menurut Shoim adalah situasi di sekolah. Hasil monitoring menunjukkan masih ada asap rokok di sekolah dan penjual rokok di sekitar sekolah. Bahkan orang yang merokok itu di antaranya adalah para guru.

“Temuan [Yayasan] Kakak ketika riset kantin sehat, apakah ada orang merokok? Ada di kantin. Siapa? Ya Pak Guru dan sebagainya,” kata Shoim.

Pada akhir 2019, terdapat 1.830 puntung rokok yang ditemukan dalam aksi pungut puntung rokok di taman cerdas. Temuan tersebut, kata Shoim, telah disampaikan kepada Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.

“Juni ini kita monitoring lagi apakah ada perubahan sejak ada Perda KTR,” pungkasnya. (Adib Muttaqin Asfar)

43% Keluarga Solo Merokok, Anak Kian Rentan Terkena Covid-19

Diskusi daring bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Masa Pandemi pada Jumat (5/6/2020) siang, mengungkap fakta-fakta rentannya anak dan keluarga di Surakarta terinfeksi Covid-19. Faktor utama di balik kerentanan itu adalah asap rokok.

Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian dari pelatihan Jurnalisme Data yang diadakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan AJI Solo. Ada dua pemantik dalam diskusi ini, yaitu Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih dan Ketua Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati. Peserta dari diskusi ini mahasiswa dan pelaku jurnalisme warga di sekitar Soloraya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, mengawali materi diskusi dengan memaparkan data keluarga yang tidak merokok dari mulai tahun 2014-2019. Dia menunjukkan, persentase keluarga tidak merokok yang masih di bawah 60%.

Pada tahun 2014 jumlah keluarga tidak merokok adalah 55.20 persen. Kemudian berturut-turut dari tahun 2015-2019 adalah 54.03 persen, 54.45 persen, 55.10 persen dan 56.70 persen. Dari data dapat disimpulkan bahwa jumlah keluarga tidak merokok mengalami peningkatan. Namun, Siti Wahyuningsih menyayangkan masih adanya keluarga perokok di Kota Solo.

“Angka ini menjadi keprihatinan kita semua. Berarti masih ada 43.30 persen keluarga yang ada di Kota Surakarta ini merokok. Kalau ini merokok, kira-kira berapa anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut?” ungkap Siti Wahyuningsih saat memaparkan data.

Siti menambahkan bahwa pentingnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah untuk menekan jumlah perokok aktif dan melindungi perokok pasif.

Data masih banyaknya keluarga perokok tersebut didukung oleh Ketua Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati. Dia memaparkan bahwa jumlah perokok anak di tahun 2019 ini adalah 9.10 persen. Hal ini jauh dari target yang ditetapkan dalam rencana jangka panjang negara adalah 5.40 persen. Shoim mengatakan bahwa isu rokok adalah salah satu misi Yayasan Kakak dalam melindungi kesehatan anak.

“Sekarang program perlindungan anak di tingkat nasional diwujudkan dalam Kota Layak Anak. Harapannya hak-hak anak bisa direalisasikan. Salah satu indikator kota layak anak adalah adanya kawasan tanpa rokok. Solo merupakan Kota Layak Anak kategori utama bersama Surabaya dan Bali.” Terang Shoim dalam diskusi itu.

Lebih lanjut, Shoim menyayangkan masih banyaknya iklan dan penjual rokok yang ada di sekitar anak-anak. Padahal Solo termasuk kategori utama kota layak anak. Shoim memaparkan hasil temuan Yayasan Kakak saat melakukan observasi di Taman Cerdas yang ada di Kota Solo, yaitu banyaknya perokok, penjual rokok, masih tercium bau asap rokok dan ditemukan 9.830 putung rokok dalam waktu satu jam. Hal ini, menurut Shoim, menjadi ironi mengingat taman cerdas di Kota Solo adalah taman cerdas terbaik di Indonesia.

Rokok dan Covid-19

Dalam diskusi yang sama, Siti memaparkan benang merah antara rokok dengan pandemi Covid-19. Dipaparkannya, perokok lebih berisiko terkena Covid-19 2,25 kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok. Selain itu, Siti mengatakan bahwa aktivitas merokok melibatkan kontak jari tangan dengan bibir secara insentif memungkinkan virus berpindah dari tangan ke mulut dengan lebih mudah.

“Merokok memperburuk kondisi dan hasil akhir pasien Covid-19. Karena Covid-19 menyerang paru-paru, karena kondisi paru-paru perokok tidak seelastis orang yang tidak merokok. Perokok juga diperkirakan memiliki resiko 14 kali lebih tinggi mengalami pneumonia akibat Covid-19 dibanding non perokok.” Ujar Siti.

Lebih lanjut, Siti mengatakan bahwa penyakit berat akibat merokok seperti penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru kronis, kanker dan diabetes dapat meningkatan keparahan Covid-19. Bahkan, pasien Covid-19 yang merokok cenderung mengalami gejala yang lebih para dibanding pasien non perokok.

“Dari 34 kasus di Solo, empat di antaranya meninggal mempunyai penyakit komorbid (penyerta) dan merokok,” papar Siti dalam diskusi. Saat menutup presentasinya, Siti Wahyuningsih, mengatakan bahwa bernafas dengan udara bersih dan tanpa asap rokok adalah hak setiap manusia. (Ni’matul Faizah)

Perda KTR Surakarta, Mampukah Melindungi Publik dari Asap Rokok?

Peraturan Daerah No 9/2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) masih belum efektif diterapkan di Kota Surakarta. Dinas Kesehatan Kota Surakarta mengakui hal itu dan sanksi dalam perda tersebut baru akan diterapkan pada Agustus 2020, atau setahun setelah perda itu disahkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, menyampaikan implementasi KTR di acara diskusi online bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020). Menurutnya, penerapan KTR tahap pertama sudah dilakukan di UPT Puskesmas dan Kampung Bebas Asap Rokok se Kota Surakarta.

Sebelum Perda itu disahkan, Kota Surakarta baru memiliki Perwali (Peraturan Walikota) Nomor 13 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM). Pemberlakukan perda ini merupakan upaya melindungi masyarakat khususnya yang tidak merokok dari asap rokok.

Siti mengungkapkan selama 3 tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah keluarga tanpa asap rokok di Surakarta. Namun jumlah keluarga bebas rokok ini masih di bawah 60%.

Pada 2017 ada 54,45% keluarga yang tidak merokok dan 45,55% keluarga yang merokok. Pada 2018 ada 55,1% keluarga
yang tidak merokok dan 44,9% keluarga yang merokok. Sedangkapn pada 2019 ada 56,7% keluarga yang tidak merokok dan 43,3% keluarga yang merokok.

“Jadi sebenarnya Perda ini adalah perlindungan masyarakat, kalau masyarakat dilindungi tapi masyarakat tidak mau melindungi dirinya sendiri. Yang melindungi terus siapa ini? Nah ini harus kita tanamkan pada masyarakat. Saya yakin masyarakat akan berubah. Cuma waktunya ini yang perlu, dan mungkin perlu dipaksa juga dengan adanya Perda, agar menjadi sebuah kebiasaan,” kata Siti.

Dalam peraturan daerah juga menyebutkan siapa saja yang dilarang untuk membeli rokok. Salah satunya anak usia dibawah 18 tahun, ini sanagat diutamakan dalam setiap sosialisasi KTR. Agar kesehatan anak dalam pertumbuhannya bisa terkendali.

Kawasan yang dilarang untuk merokok daerah Surakarta di antaranya:
1. Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan)
 Rumah Sakit
 Puskesmas
 Puskesmas pembantu
 Tempat prakterk dokter
 Tempat praktek bidan/perawat mandiri
 Klinik
 Apotek/Toko obat
 Laboratorium kesehatan
 Fasyankes tradisional
 Fasyankes lainnya
2. Tempat proses belajar mengajar
3. Tempat anak bermain
 Tempat penitipan anak
 Tempat pengasuhan anak
 Arena bermain anak-anak
 Arena kegiatan anak lainnya
4. Tempat ibadah
 Masjid, mushollah atau langgar
 Gereja dan kapel
 Pura
 Wihara
 Klenteng
5. Angkutan umum
 Bus
 Taksi
 Angkutan perkotaan
 Kereta Api
 Angkutan umum lainnya
6. Tempat kerja
 Tempat kerja pada instansi pemerintah baik pusat, provinsi maupun daerah
 Badan Usaha Milik Negara/Daerah
 Tempat Kerja Swasta
7. Tempat umum
 Hotel
 Restoran
 Rumah makan
 Termina
 Stasiun
 Pasar rakyat dan toko modern
 Pusat berbelanjaan
 Gedung Pertemuan
 Perpustakaan
 Bioskop
 Sarana dan prasarana olahraga
 Tempat pagelaran kesenian di ruang tertutup
8. Tempat lainnya
 Halte
 Taman rekreasi
 Sarana dan prasarana olahraga
Peraturan daerah (Perda) melibatkan seluruh elemen masyarakat. Sehingga peran masyarakat sangat diperlukan seperti;
1. Masyarakat berperan serta untuk mewujudkan KTR di Lingkungan tempat tinggalnya masing-masing
2. Pemberian saran, pendapat dan pemikiran, usulan dan pertimbangan berkenaan dengan pemantauan dan pelaksanaan kebijakan KTR.
3. Keikutsertaan dalam bimbingan, penyuluhan serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang KTR
4. Pemberian peringatan atau teguran kepada perokok untuk tidak merokok di KTR.
5. Pemberitahuan kepada pimpinan dan atau penanggung jawab KTR jika terjadi pelanggaran.
(Yuni Firdaus)

Pelajaran dari Riwayat Merokok Pasien Covid-19 di Solo

Empat dari pasien positif Covid-19 yang meninggal di Surakarta diketahui memiliki riwayat perokok atau penyakit penyerta (komorbid). Meskipun bukan menjadi satu-satunya penyebab, namun konsumsi rokok bisa menjadi faktor pemicu risiko penyakit bawaan seperti pneumonia, hipertensi, gangguan jantung, dan diabetes.

Penyakit-penyakit bawaan inilah yang dalam berbagai kasus memperparah kondisi pasien Covid-19. Terkait konsumsi rokok, Kepala Dinas Kesehatan Surakarta, Dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes. MH, menyampaikan bahwa persentase cakupan keluarga yang tidak merokok sejak tahun 2016 hingga 2019 terus naik. Akan tetapi presentase tersebut hanya berhenti pada angka 56,7% saja, artinya masih ada 43,3% keluarga di Surakarta yang merokok.

Hal tersebut memunculkan keprihatinan dari Dinas Kesehatan. Dampak rokok diyakini membuat tubuh seseorang rentan penyakit, terlebih di tengah pandemi Covid-19 yang belum bisa diketahui kapan berhenti.

“Memang sulit untuk bisa memberi pengertian kepada para perokok, padahal merokok menjadikan para penggunanya lebih rentan terjangkit virus Covid-19,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, dalam diskusi daring Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Tengah Pandemi Covid-19, Jumat (5/6).

Berdasarkan penelitian Center for Tobacco Research and Education Department of Medicine University of California, San Francisco, papan Siti, perokok memiliki risiko 2,25 kali lipat lebih besar terjangkit Covid-19. Hal tersebut pada umumnya disebabkan para perokok sudah bermasalah dengan paru-paru mereka.

“Bahkan salah satu gejala Covid-19 adalah pneumonia. Ditambah lagi dengan banyaknya kontak jari tangan dan bibir ketika mengisap rokok sehingga membuat virus lebih mudah masuk ke tubuh,” papar sosok yang akrab disapa Bu Ning itu.

Dalam diskusi tersebut, Siti juga menampik kabar yang beredar bahwa rokok mampu menghindarkan penggunanya dari bahaya penularan Covid-19. Hal tersebut ditegaskan Siti dalam pemaparannya.

“Merupakan berita yang tidak dapat dibenarkan jika ada yang bilang bahwa tubuh seorang perokok itu terhindar dari Covid-19. [alasannya] Sebab panas dari asapnya membunuh virus bahkan hingga mampu menyembuhkan, apalagi yang menyatakan bahwa rokok elektrik itu aman. Yang namanya rokok tetaplah berbahaya bagi kesehatan entah itu elektrik atau tidak,” tuturnya.

Di akhir sesi pada pertemuanyang dihadiri kurang lebih 25 audiens, Siti menyampaikan bahwa pihak Dinas Kesehatan merasa tertantang untuk melakukan pengecekan secara lebih intens terhadap riwayat merokok pada pasien Covid-19.

Saat ini tercatat masih ada puluhan orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Namun Dinas Kesehatan belum memiliki data seberapa jauh pengaruh merokok terhadap pasien Covid-19. (Arindya Iryana Putri)