Tag Archives: jurnalisme digital

Pelajaran Rusdi Mathari: Karena Jurnalisme Bukan Soal Kecepatan

Suatu hari di Petamburan, Jakarta Pusat, di tengah puncak suhu Pilkada DKI Jakarta yang selalu panas di awal 2017, muncul kabar seorang warga nyaris dipersekusi. Kabarnya serius, orang tersebut mengaku mendapat ancaman gara-gara mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sang calon gubernur petahana.

Di tengah kontestasi politik yang dijejali sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) itu, isu ini berpeluang menjadi hot topic selama berminggu-minggu. Terlebih, Petamburan jamak dikenal sebagai markas Front Pembela Islam (FPI), salah satu ormas yang menentang Ahok sejak jauh hari sebelum pilkada.

“Orang ini mengaku diancam, rumahnya akan dibakar. Saya tahu ini news value-nya tinggi, tapi saya putuskan untuk menelepon kantor. Tirto punya bank data yang sangat kuat, jadi saya meminta data tentang kasus serupa di kawasan itu. Dari situ saya diminta mewawancarai tetangga-tetangganya,” kata Ahmad Khadafi, editor Mojok dalam bedah buku Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan karya Rusdi Mathari, di Teras Baca Perpustakaan IAIN Surakarta, Sabtu (3/11/2018) siang.

Benar saja, melalui wawancara dengan para tetangga itu, Khadafi mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda. Orang-orang bilang mereka marah lantaran si warga yang mengaku diancam itu membagikan paket sembako saat musim kampanye sudah lewat. Lantaran kesal, ada warga lain yang sampai bilang “bakar”.

Situasi bisa jadi berbeda seandainya pengakuan orang yang mengaku diancam itu ditelan mentah-mentah oleh media massa. Bukan tidak mungkin kabar itu menjadi “bensin” yang bisa memicu amarah kelompok massa tertentu terhadap pihak yang berseberangan.

Cerita itu hanya satu contoh betapa berbahaya jika fakta hanya diberitakan tanpa verifikasi. Cerita itu juga mengingatkan pada Rusdi Mathari – jurnalis “keras kepala” yang diakui sebagai salah satu guru jurnalisme di Indonesia – yang mengajarkan prinsip verifikasi berlapis.

Rusdi menunjukkan hal itu di antaranya melalui laporan tentang kasus pembakaran rumah orang Syiah di Sampang, Madura, Kamis 29 Desember 2011 silam. Dalam peliputan kasus itu, Rusdi melakukan wawancara terhadap puluhan orang demi mendapatkan fakta-fakta dan sudut pandang lain yang jauh berbeda dari opini khalayak kebanyakan. Hasilnya, liputan Rusdi menjelaskan semua teori asal usul konflik itu, mulai dari konflik dua keluarga, opini masyarakat tentang NU-non-NU, perempuan, hingga faktor pilkada.

Sayang, disiplin ini yang kerap absen pada diri mayoritas wartawan. Mereka enggan bertanya detail sebuah persoalan dan hanya mengandalkan apa yang dikatakan oleh seorang narasumber. Dalam pemberitaan tentang isu penganiayaan Ratna Sarumpaet (yang belakangan diakui cuma cerita bohong), banyak wartawan yang tidak jeli. Pada berita-berita pertama yang muncul 2 Oktober 2018, judul-judul yang bermunculan kurang lebih berbunyi: Ratna Sarumpaet Dikabarkan Dianiaya Hingga Lebam. Sebagian berdasarkan keterangan tokoh-tokoh yang dekat dengan Ratna, namun banyak pula yang berdasarkan kicauan di akun medsos politikus.
Padahal kalau mau sedikit berkeringat, kita bisa membaca kejanggalan dari kabar itu. Setidaknya pakailah metode sederhana: Ratna Sarumpaet orang yang vokal dan suka berkicau, maka lihat aktivitas akunnya di Twitter. Sejak hari yang disebut-sebut waktu penganiayaan itu, akun @ratnaspaet rajin berkicau hingga berhari-hari kemudian. Tentu ini tidak konsisten dengan kabar yang menyebut dia mengalami trauma.

Di luar pemberitaan kasus itu, verifikasi dan konfirmasi kerap menjadi titik kritis yang ditinggalkan. Misalnya saat meliput kasus dugaan pemukulan, semestinya wartawan tak semata percaya pada keterangan satu pihak, meskipun yang mengaku sebagai korban.

“Seorang wartawan yang baik seharusnya bertanya korbannya. ‘Mbak kamu itu dianiaya apa dipukul?’ Harus ditanya dipukulnya seperti apa, bunyinya gimana. Cocok enggak sama visumnya? Sayang mayoritas jurnalis kita tidak bertanya sedetail itu,” kata Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos yang juga berbicara dalam diskusi itu.

Komentar Ichwan itu merujuk pada perilaku wartawan dalam meliput berbagai kasus. Kerap kali wartawan hanya mengutip keterangan dari aparat tanpa mencari konfirmasi dari pihak-pihak yang terlibat. Akibatnya, berita hanya mengutip pernyataan narasumber, diterbitkan lebih dulu, dan konfirmasi bisa disusulkan kemudian.

“Mayoritas jurnalis kita ini jurnalis ‘contongan’, kita miskin jurnalis dengan kredo investigator. Karena kalau dapat data, dia tidak akan cuma tukang rekam,” kata Ichwan merujuk pada kebiasaan wartawan saat ini yang mengandalkan smartphone masing-masing untuk merekam sebuah pernyataan. Saat tangan kiri menyodorkan alat perekam, pada saat bersamaan tangan kanan mengetik berita di layar smartphone lainnya. Ini fenomena umum dalam industri informasi di era digital yang menuntut semuanya serba cepat.

Tentu saja fenomena itu jauh dari kebiasaan wartawan hingga 10 tahun lalu yang masih mengandalkan buku catatan. Memang saat itu banyak juga wartawan yang sudah menggunakan recorder, namun penggunannya lebih untuk membuat sebuah laporan menjadi lebih presisi dan bukan soal kecepatan.

“Cak Rusdi tidak pernah menggunakan rekaman untuk wawancara, dia percaya pada catatan karena ingatannya sangat kuat,” kenang Khadafi tentang sosok bernama asli Rusdi Amrullah itu.

Konten yang Khas

Barangkali hampir semua jurnalis yang pernah menikmati tulisan-tulisan Rusdi menganggapnya sebagai guru meski tak pernah berinteraksi secara langsung. Di era revolusi industri keempat di mana tulisan-tulisan panjang seperti sulit menemukan pembacanya, meniru jejak Rusdi memang bukan pilihan utama banyak orang.

Rupanya di situlah kelebihan tulisan Rusdi. Tulisan-tulisannya yang panjang itu tak muncul di media besar, namun di blog pribadinya yang secara visual sangat biasa saja. Tapi dari blog dan akun medsosnya itulah tulisannya dibaca banyak orang, lalu dibagikan berkali-kali.

Salah satu kekuatan tulisannya adalah perspektifnya terhadap berbagai isu, pemberitaan, dan sikap media. Namun ini bukan semata tulisan opini seperti gaya umum para analis. Rusdi memasukkan banyak fakta hasil dari pengalaman “pekerjaan kaki”-nya sebagai wartawan, bukan semata hasil “wartel” (wawancara telepon). Barangkali inilah yang membuat Goenawan Mohammad (GM) ingin biografinya ditulis oleh Rusdi.

“Hal lain yang saya ingat, Cak Rusdi menganggap GM jadi gurunya, walaupun akhir kariernya di Tempo ada sedikit friksi dengan GM. Saat itu dia ingin bikin biografi GM. Suatu hari GM bikin status ngechat Rusdi, ‘statusku di like ya’,” kata Khadafi berkisah. Rupanya, itu adalah momen yang membalikkan hubungan personal keduanya.

“Itu pertemanan biasa. Tapi Rusdi tak mau. GM marah, lalu dia tidak mau bionya dibikin Rusdi. Sampai dia berkata, ‘kalau mau bikin bioku, tunggu sampai aku mati!’. Rusdi menjawab, ‘kalau kamu mati, sudah ada banyak orang yang bikin biografimu’,” kisah Khadafi. Dan biografi itu tak pernah ditulis oleh Rusdi.

Lepas dari itu, tekad untuk menyajikan laporan jurnalistik yang lengkap dan jernih adalah modal berharga. Di era industri media 4.0, sudah begitu banyak media yang menyajikan kecepatan berita dan bersaing menjadi yang tercepat. Banyak di antaranya yang menyajikan isu-isu populer di media sosial lalu mengonfirmasi kebenarannya, dan jadilah berita. Tapi itu masih mendingan lantaran tak semua isu di medsos itu diverifikasi dan dicarikan konfirmasi. Banyak pula yang mentah-mentah mengambilnya dari media sosial.

“Kalau cuma butuh informasi, kita tidak perlu buka portal berita, cukup media sosial saja. Contoh paling dekat itu ICS, itu [arus informasinya] lebih cepat – bahkan mungkin daripada intelijen kepolisian. Itu kalau cuma informasi. Itu kenapa di media online ada ada judul klick bait. Itu memang kultur siber. Tapi sekarang tidak harus klik berita, tapi cukup lihat timeline Twitter, sudah cukup untuk tahu isu yang berkembang,” ujar Khadafi.

Lalu apa yang bisa ditawarkan jurnalisme? Sebenarnya khalayak tak lagi cuma butuh kecepatan. Publik ingin tahu opini, analisis, dan hal-hal yang tak bisa dipenuhi oleh media sosial yang serba cepat itu. Contoh sederhananya begini: saat Indonesia dikalahkan Jepang di AFC Cup U-19 2018, masyarakat seantero Indonesia sudah langsung tahu karena pertandingan ditayangkan live di RCTI. Tapi masyarakat juga ingin tahu analisis pertandingan, opini pelatih Jepang tentang permainan Indonesia, dan sebagainya.

“Itu konsep media online lama kalau jual berita. Media sekarang menjual perspektif [opini]. Ada juga media yang tidak punya sumber daya manusia yang cukup, tapi memaksakan diri untuk mendaur ulang berita.”

Penulis masih ingat bagaimana mendapatkan sebuah naskah berita dari Sragen saat hari pencoblosan Pilkada Serentak 2017 lalu. Sore hari saat hasil hitung cepat telah bermunculan, calon bupati petahana, Agus Fatchurrahman, menyadari kekalahannya. Momen-momen ekspresinya, raut wajahnya, kata-katanya, hingga detail cara dia menghisap rokoknya, tergambar jelas di naskah itu.

Awalnya itu hanya berita yang ditulis dalam format straight news seperti biasa. Namun kami berpikir tulisan panjang itu terlalu berharga jika hanya disajikan dalam bentuk berita flash biasa. Saya sudah lupa apa judul asli naskah itu, namun saya putuskan untuk memberinya judul: Pidato dan Rokok Terakhir Agus Fatchurrahman. Kami juga mengambil risiko dan melawan anggapan bahwa feature tak laku di media online, apalagi di daerah non-Ibu Kota. Kenyataannya lain, berita itu menjadi salah satu unggahan dengan hit tertinggi selama 2-3 hari di Solopos.com.

“Beberapa media sudah mulai menjual tulisan panjang, seperti Remotivi, Beritasatu, Detik juga ada. Sekarang orang bisa saja mengakses tulisan-tulisan panjang seperti di Tirto karena sekarang bukan lagi tren newsflash,” kata Khadafi.

Masih kurang bukti? Ichwan menyajikan pengalamannya membaca ulasan konser metal di media mainstream.

“Soal liputan [konser] Megadeth di Jogja, saya cari di Rollingstone, enggak memuaskan saya. Akhirnya saya menemukan tulisan yang saya inginkan. Tapi di mana? Ternyata saya menemukannya di blog-blog musik metal itu. Begitu pula tentang Dream Theatre. Saya menemukan pemilik blog itu menggambarkan dengan jelas, bahwa di Dream Theatre itu benar-benar profesor-profesor musik. Itu tidak saya dapatkan di media mainstream,” kata dia.

Ichwan pun berpendapat media saat ini harus memiliki konten yang khas dan memberikan perspektif baru. Dia menunjuk kembali perspektif dalam liputan Rusdi tentang kasus penyerangan terhadap komunitas Syiah di Sampang itu, yang tak bisa ditemukan dalam laporan media-media besar.

Adib Muttaqin Asfar