Tag Archives: AJI

Solidaritas untuk Warga dan Jurnalis Korban Gempa Palu

Salam Solidaritas

Gempa bumi 7,7 scala richter mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018, pukul 17.02 WIB. Pusat gempa berjarak 26 km dari Utara Donggala dengan kedalaman 10 km ini memakan korban nyawa dan menimbulkan kerusakan besar di Donggala dan Kota Palu. Selain gempa, kerusakan parah juga akibat tsunami. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Senin, 1 Oktober 2018, korban tewas mencapai 844 orang dan kemungkinan akan terus bertambah.

Ribuan orang juga akhirnya mengungsi karena rumahnya sudah tidak ada, tak bisa ditempati, atau khawatir ada gempa susulan. Tsunami menyebabkan jalan-jalan dipenuhi puing-puing, yang membuat sebagian besar akses jalan tertutup. Gempa menghancurkan sejumlah instalasi penting, termasuk listrik dan pemancar telekomunikasi. Akibatnya sebagian besar area tak ada aliran listrik. Telekomunikasi juga terganggu. Akses jalan yang rusak menyebabkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) langka.

Bencana ini berdampak pada nasib jurnalis, termasuk yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu. Berdasarkan pendataan yang dilakukan AJI, dari 68 anggota, sebagian besar diketahui selamat. Tapi masih ada yang belum bisa dikonfirmasi keberadaannya. Dari jurnalis yang selamat itu, ada yang rumahnya rata dengan tanah diterjang sunami, ada yang rumahnya rusak ringan hingga rusak parah akibat gempa. Ada juga yang keluarganya tak selamat akibat musibah ini.

Untuk membantu jurnalis anggota AJI Palu menghadapi dampak gempa dan tsunami, AJI Indonesia meminta bantuan kepada IFJ Asia Pasific menggalang bantuan dana dari sesama anggota AJI, simpatisan dan afiliasi AJI di dunia internasional. Bagi yang ingin menyalurkan donasinya, silakan kirim melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Cut Mutia Jakarta Pusat, nomor rekening 0230-0100-2015-303 an. Aliansi Jurnalis Independen. Bukti donasi harap dikirim melalui http://bit.ly/Solidarity4JournalistsAJIPalu_KorbanTsunami atau WhatsApp ke +62813-8527-2758. Donasi akan dibuka hingga 1 November 2018. Detail pemanfaatan hasil donasi akan disampaikan melalui email.

Jakarta, 1 Oktober 2018

Ketua Umum AJI, Abdul Manan
Sekjen AJI, Revolusi Reza

Update Donasi 8 Oktober 2018: Terkumpul Rp10.400

Sekretariat AJI:
Jl Sigura-gura 6a, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Indonesia
Telp. +621-22079779 Email sekretariat@ajiindonesia.or.id
Web: www.aji.or.id Twitter: @AJIIndo

AJI Gelar Nobar “Silenzio Forcado”

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo akan menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film Silenzio Forcado (Forced Silence) di Monumen Pers Solo, Kamis (3/5) pukul 10.00 WIB. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara untuk memperingati World Press Freedom Day yang jatuh setiap 3 Mei.

Silenzio Forcado merupakan film dokumenter yang berkisah tentang ekosistem jurnalistik di Meksiko. Dalam kurun waktu yang panjang, kerja jurnalistik di Meksiko memang dikenal berisiko menyusul tekanan diktator hingga ancaman dari pelaku kriminal yang terorganisir. Reporter Without Borders bahkan melansir Meksiko sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi kehidupan jurnalis.

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, mengatakan pemutaran film Silenzio Forcado diharapkan bisa menjadi bahan diskusi maupun refleksi untuk memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia. Film berdurasi sekitar 25 menit ini akan mengekspos pengakuan sejumlah pekerja media di Meksiko baik dari dalam maupun luar negeri. “Pers di Indonesia sendiri belum sepenuhnya merdeka jika melihat banyaknya kasus ancaman yang diterima jurnalis saat bekerja. Padahal kebebasan media mestinya mendapat tempat dan perlindungan di negara demokrasi,” ujar Adib, dalam rilisnya, Rabu (2/5). Acara pemutaran film dan diskusi gratis serta terbuka bagi masyarakat umum.

Lindungi Pekerja Media di Era Transisi Industri Media

Peringatan Hari Buruh Internasional yang dirayakan hampir seluruh serikat buruh di dunia setiap 1 Mei seringkali tak dirasakan oleh para pekerja media. Saat ribuan anggota serikat buruh menghentikan rutinitas kerja demi turun ke jalan, sebagian jurnalis dan awak media tetap menjalankan tugas jurnalistiknya, termasuk meliput aksi para buruh.

Para jurnalis tak pernah absen meliput isu-isu perburuhan, setidaknya mengawal proses penetapan upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kota/kabupaten (UMK) setiap tahun. Para jurnalis pula yang mengawal kasus-kasus ketenagakerjaan, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) perusahaan yang pailit, masalah jaminan sosial, hingga tunjangan hari raya (THR) yang tak diterima sebagian buruh.

Tak terasa, para awak media juga merupakan bagian dari pekerja yang bernaung di bawah korporasi atau perusahaan media. Sama halnya dengan kalangan pekerja lainnya, para pekerja media juga rentan mengalami berbagai masalah ketenagakerjaan di samping risiko menjadi sasaran kekerasan dalam tugas-tugas jurnalistik.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat sedikitnya ada 17 kasus PHK di industri media hingga 2017. Dari 17 kasus itu, 11 di antaranya terjadi sepanjang tahun 2016 hingga akhir 2017. Frekuensi kasus ketenagakerjaan di industri media cenderung meningkat seiring meredupnya bisnis media cetak di Indonesia dan berbagai negara.

Berhentinya Harian Sinar Harapan mulai 1 Januari 2016 lalu menjadi alarm bagi industri media cetak. Meski sesungguhnya sebelum itu sudah ada perusahaan-perusahaan media lainnya yang menutup/mengurangi sebagian lini produk cetak mereka seperti The Jakarta Globe,Harian Bola, dan edisi Minggu Koran Tempo.

Di luar itu, sederet tabloid cetak yang dulu pernah jaya tutup satu demi satu. Sebagian perusahaan media mengalihkan fokus memperkuat lini produk online mereka. Namun kabar berlanjut pada pertengahan tahun lalu ketika Koran Sindo menutup sejumlah bironya. Terakhir di awal 2018, salah satu koran di Kota Surakarta menerbitkan edisi terakhirnya pada Sabtu (30/12/2017).

Kian mahalnya ongkos produksi media cetak dan perkasanya media sosial menjadi keniscayaan yang terhindarkan. Namun, para pekerja media harus dilindungi dari risiko masalah ketenagakerjaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Karena itu, AJI Kota Surakarta mengimbau hal-hal berikut:

1. Mengajak para jurnalis dan pekerja media untuk membentuk serikat pekerja di masing-masing perusahaan media, atau membentuk serikat pekerja lintas media jika memungkinkan. Hal ini penting demi memperjuangkan hak-hak pekerja media, termasuk di masa-masa sulit.

2. Mengimbau perusahaan media untuk sebisa mungkin menghindarkan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak atas nama efisiensi, termasuk selama masa transisi bisnis media massa dari cetak ke digital.

3. Meminta perusahaan media untuk tetap memenuhi hak-hak pekerja, termasuk upah layak jurnalis, dan jaminan sosial bagi awak media.

4. Meminta Dewan Pers bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk aktif melindungi jurnalis dan pekerja media terkait pemenuhan hak-hak mereka.

Solo, 30 April 2018

Pengurus AJI Kota Surakarta

Ketua

Adib Muttaqin Asfar

Sekretaris

Chrisna Chanis Cara

AJI Solo Ajak “Ngaji Bareng”

SOLO–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo meluncurkan program Ngaji Bareng yang bakal membahas isu-isu aktual kejurnalistikan hingga pengembangan kapasitas wartawan. Di edisi perdana Ngaji Bareng, AJI akan menggelar workshop dengan tema Verifikasi Data Media Sosial yang digelar di Sekretariat AJI Solo, Jl. Srikatan II No. 2, Gremet, Manahan, Banjarsari, Sabtu (21/4) mulaipukul 12.30 WIB. Kegiatan akan dipandu Syifaul Arifin, trainer dari Google News Initiative yang juga aktivis AJI Solo.

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, mengatakan pengetahuan tentang verifikasi data sangat penting di tengah banjir hoaks yang melanda media sosial maupun kanal-kanal pemberitaan. Setelah mengikuti workshop tersebut, Adib berharap publik mampu mengidentifikasi berita hoaks secara mandiri dengan meneliti sumbernya. “Kali ini kegiatan kami khususkan bagi jurnalis umum, pers mahasiswa dan bloger. Ke depan kami berencana menggelar acara serupa dengan melibatkan publik secara luas,” ujar Adib dalam rilisnya, Jumat (20/4).

Peserta workshop tak dipungut biaya. Mereka hanya diminta membawa laptop dan handphone sebagai penunjang kegiatan. Adib menambahkan program Ngaji Bareng bakal digelar rutin dengan tema-tema yang berbeda. Program ini ingin mendorong peningkatan kapasitas jurnalis di Solo dan sekitarnya.

Narahubung:
Adib : 085640288794
Nana : 081229922602

Pers Alternatif Diharapkan Kawal Kasus PT RUM

SOLO—Pers mahasiswa (persma) di Soloraya dituntut membuat aksi nyata terkait kasus PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo. Pemberitaan pers alternatif dinilai penting untuk mendorong pihak terkait segera menyelesaikan kasus pencemaran lingkungan.

Seruan itu mengemuka dalam diskusi publik Media dan Isu Lingkungan Hidup yang digelar di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo, Rabu (21/3) malam. Diskusi yang dihadiri sekitar 40 peserta dari berbagai elemen ini menghadirkan tiga narasumber yakni Ardan Fathun Niam (Aktivis Sukoharjo Melawan Racun/Samar), Afzal Nur Iman (Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi HMI Solo) dan Adib Muttaqin Asfar (Ketua AJI Solo).

Aktivis HMI Solo, Afzal, menyoroti peran media mainstream yang belum optimal dalam mengawal kasus PT RUM. Menurut Afzal, pers mestinya tidak setengah-setengah dalam membela kepentingan rakyat kaitannya dalam problem pencemaran lingkungan PT RUM. Yang terjadi selama ini, dia menilai sebagian pers konvensional cenderung main aman dan tidak berusaha menguliti kasus lebih mendalam. “Wartawan seakan tak peduli soal konflik. Yang penting mereka bekerja kemudian rampung,” ujarnya.

Dia menilai peran persma menjadi penting di saat pers umum sulit diharapkan karena terbentur beragam persoalan. Menurut Afzal, persma bisa menjadi media alternatif yang menyuarakan kegetiran warga akibat limbah dan bau busuk dari PT RUM. “Jangan takut turun dalam polemik,” kata dia.

Salah satu peserta diskusi yang juga pengelola kanalbaca.com, Bukhori, mempertanyakan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Solo yang tak segera bergerak melihat fenomena PT RUM. Padahal PPMI Solo dianggap berpotensi karena memiliki anggota sekitar 30 lembaga pers mahasiswa (LPM) di Soloraya. Di daerah lain, dia menyebut PPMI langsung bergerak dengan aktivis jika terjadi problem lingkungan hidup. “Kenapa di Solo justru belum ada gerakannya. Saat saya tanya aktivis, ada tidak anggota persma yang mendampingi, mereka bilang tidak ada,” kata Bukhori.
Ketua PPMI Solo, Rizki Hidayat, menampik PPMI berpangku tangan dalam kasus PT RUM. Dia mengatakan kasus PT RUM sudah dibahas dalam forum antarpemimpin umum Persma. PPMI kemudian berinisiatif membikin diskusi yang melibatkan AJI Solo. “Kemarin sempat ada opsi persma ikut turun ke jalan, tapi akhirnya disepakati pembuatan diskusi. Setelah ini juga kami lanjutkan dengan pemberitaan,” ujarnya.

Pihaknya mengakui kesulitan mendapat data dan kajian mendalam untuk disusun sebagai bahan pemberitaan komprehensif. Dia tak ingin PPMI hanya menjadi corong propaganda kelompok tertentu dalam kasus PT RUM. “Kami harus bisa membedakan antara menyuarakan kepentingan kelompok atau kepentingan kemanusiaan.”

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, menjelaskan hampir semua media lokal sudah mengawal kasus PT RUM sejak Oktober 2017. Dia tak menampik setiap jurnalis punya sudut pandang sendiri dalam menulis kasus. “Yang jelas jurnalis harus berpihak pada kebenaran. Terkait keberpihakan, lagi-lagi kembali pada hati nurani,” katanya.

Aktivis Sukoharjo Melawan Racun, Ardan, mengatakan operasional PT RUM sudah bermasalah sejak awal. Dia menilai sosialisasi dan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pabrik penghasil serat rayon itu tidak transparan. “Warga tahunya itu pabrik tekstil biasa, ternyata produksinya bikin limbah seperti ini. Baunya sudah seperti bau dari septic tank.” (Farida Trisnaningtyas/Chrisna Chanis Cara)