43% Keluarga Solo Merokok, Anak Kian Rentan Terkena Covid-19

Diskusi daring bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Masa Pandemi pada Jumat (5/6/2020) siang, mengungkap fakta-fakta rentannya anak dan keluarga di Surakarta terinfeksi Covid-19. Faktor utama di balik kerentanan itu adalah asap rokok.

Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian dari pelatihan Jurnalisme Data yang diadakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) dan AJI Solo. Ada dua pemantik dalam diskusi ini, yaitu Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih dan Ketua Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati. Peserta dari diskusi ini mahasiswa dan pelaku jurnalisme warga di sekitar Soloraya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, mengawali materi diskusi dengan memaparkan data keluarga yang tidak merokok dari mulai tahun 2014-2019. Dia menunjukkan, persentase keluarga tidak merokok yang masih di bawah 60%.

Pada tahun 2014 jumlah keluarga tidak merokok adalah 55.20 persen. Kemudian berturut-turut dari tahun 2015-2019 adalah 54.03 persen, 54.45 persen, 55.10 persen dan 56.70 persen. Dari data dapat disimpulkan bahwa jumlah keluarga tidak merokok mengalami peningkatan. Namun, Siti Wahyuningsih menyayangkan masih adanya keluarga perokok di Kota Solo.

“Angka ini menjadi keprihatinan kita semua. Berarti masih ada 43.30 persen keluarga yang ada di Kota Surakarta ini merokok. Kalau ini merokok, kira-kira berapa anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut?” ungkap Siti Wahyuningsih saat memaparkan data.

Siti menambahkan bahwa pentingnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah untuk menekan jumlah perokok aktif dan melindungi perokok pasif.

Data masih banyaknya keluarga perokok tersebut didukung oleh Ketua Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati. Dia memaparkan bahwa jumlah perokok anak di tahun 2019 ini adalah 9.10 persen. Hal ini jauh dari target yang ditetapkan dalam rencana jangka panjang negara adalah 5.40 persen. Shoim mengatakan bahwa isu rokok adalah salah satu misi Yayasan Kakak dalam melindungi kesehatan anak.

“Sekarang program perlindungan anak di tingkat nasional diwujudkan dalam Kota Layak Anak. Harapannya hak-hak anak bisa direalisasikan. Salah satu indikator kota layak anak adalah adanya kawasan tanpa rokok. Solo merupakan Kota Layak Anak kategori utama bersama Surabaya dan Bali.” Terang Shoim dalam diskusi itu.

Lebih lanjut, Shoim menyayangkan masih banyaknya iklan dan penjual rokok yang ada di sekitar anak-anak. Padahal Solo termasuk kategori utama kota layak anak. Shoim memaparkan hasil temuan Yayasan Kakak saat melakukan observasi di Taman Cerdas yang ada di Kota Solo, yaitu banyaknya perokok, penjual rokok, masih tercium bau asap rokok dan ditemukan 9.830 putung rokok dalam waktu satu jam. Hal ini, menurut Shoim, menjadi ironi mengingat taman cerdas di Kota Solo adalah taman cerdas terbaik di Indonesia.

Rokok dan Covid-19

Dalam diskusi yang sama, Siti memaparkan benang merah antara rokok dengan pandemi Covid-19. Dipaparkannya, perokok lebih berisiko terkena Covid-19 2,25 kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok. Selain itu, Siti mengatakan bahwa aktivitas merokok melibatkan kontak jari tangan dengan bibir secara insentif memungkinkan virus berpindah dari tangan ke mulut dengan lebih mudah.

“Merokok memperburuk kondisi dan hasil akhir pasien Covid-19. Karena Covid-19 menyerang paru-paru, karena kondisi paru-paru perokok tidak seelastis orang yang tidak merokok. Perokok juga diperkirakan memiliki resiko 14 kali lebih tinggi mengalami pneumonia akibat Covid-19 dibanding non perokok.” Ujar Siti.

Lebih lanjut, Siti mengatakan bahwa penyakit berat akibat merokok seperti penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru kronis, kanker dan diabetes dapat meningkatan keparahan Covid-19. Bahkan, pasien Covid-19 yang merokok cenderung mengalami gejala yang lebih para dibanding pasien non perokok.

“Dari 34 kasus di Solo, empat di antaranya meninggal mempunyai penyakit komorbid (penyerta) dan merokok,” papar Siti dalam diskusi. Saat menutup presentasinya, Siti Wahyuningsih, mengatakan bahwa bernafas dengan udara bersih dan tanpa asap rokok adalah hak setiap manusia. (Ni’matul Faizah)

Perda KTR Surakarta, Mampukah Melindungi Publik dari Asap Rokok?

Peraturan Daerah No 9/2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) masih belum efektif diterapkan di Kota Surakarta. Dinas Kesehatan Kota Surakarta mengakui hal itu dan sanksi dalam perda tersebut baru akan diterapkan pada Agustus 2020, atau setahun setelah perda itu disahkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, menyampaikan implementasi KTR di acara diskusi online bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020). Menurutnya, penerapan KTR tahap pertama sudah dilakukan di UPT Puskesmas dan Kampung Bebas Asap Rokok se Kota Surakarta.

Sebelum Perda itu disahkan, Kota Surakarta baru memiliki Perwali (Peraturan Walikota) Nomor 13 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM). Pemberlakukan perda ini merupakan upaya melindungi masyarakat khususnya yang tidak merokok dari asap rokok.

Siti mengungkapkan selama 3 tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah keluarga tanpa asap rokok di Surakarta. Namun jumlah keluarga bebas rokok ini masih di bawah 60%.

Pada 2017 ada 54,45% keluarga yang tidak merokok dan 45,55% keluarga yang merokok. Pada 2018 ada 55,1% keluarga
yang tidak merokok dan 44,9% keluarga yang merokok. Sedangkapn pada 2019 ada 56,7% keluarga yang tidak merokok dan 43,3% keluarga yang merokok.

“Jadi sebenarnya Perda ini adalah perlindungan masyarakat, kalau masyarakat dilindungi tapi masyarakat tidak mau melindungi dirinya sendiri. Yang melindungi terus siapa ini? Nah ini harus kita tanamkan pada masyarakat. Saya yakin masyarakat akan berubah. Cuma waktunya ini yang perlu, dan mungkin perlu dipaksa juga dengan adanya Perda, agar menjadi sebuah kebiasaan,” kata Siti.

Dalam peraturan daerah juga menyebutkan siapa saja yang dilarang untuk membeli rokok. Salah satunya anak usia dibawah 18 tahun, ini sanagat diutamakan dalam setiap sosialisasi KTR. Agar kesehatan anak dalam pertumbuhannya bisa terkendali.

Kawasan yang dilarang untuk merokok daerah Surakarta di antaranya:
1. Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan)
 Rumah Sakit
 Puskesmas
 Puskesmas pembantu
 Tempat prakterk dokter
 Tempat praktek bidan/perawat mandiri
 Klinik
 Apotek/Toko obat
 Laboratorium kesehatan
 Fasyankes tradisional
 Fasyankes lainnya
2. Tempat proses belajar mengajar
3. Tempat anak bermain
 Tempat penitipan anak
 Tempat pengasuhan anak
 Arena bermain anak-anak
 Arena kegiatan anak lainnya
4. Tempat ibadah
 Masjid, mushollah atau langgar
 Gereja dan kapel
 Pura
 Wihara
 Klenteng
5. Angkutan umum
 Bus
 Taksi
 Angkutan perkotaan
 Kereta Api
 Angkutan umum lainnya
6. Tempat kerja
 Tempat kerja pada instansi pemerintah baik pusat, provinsi maupun daerah
 Badan Usaha Milik Negara/Daerah
 Tempat Kerja Swasta
7. Tempat umum
 Hotel
 Restoran
 Rumah makan
 Termina
 Stasiun
 Pasar rakyat dan toko modern
 Pusat berbelanjaan
 Gedung Pertemuan
 Perpustakaan
 Bioskop
 Sarana dan prasarana olahraga
 Tempat pagelaran kesenian di ruang tertutup
8. Tempat lainnya
 Halte
 Taman rekreasi
 Sarana dan prasarana olahraga
Peraturan daerah (Perda) melibatkan seluruh elemen masyarakat. Sehingga peran masyarakat sangat diperlukan seperti;
1. Masyarakat berperan serta untuk mewujudkan KTR di Lingkungan tempat tinggalnya masing-masing
2. Pemberian saran, pendapat dan pemikiran, usulan dan pertimbangan berkenaan dengan pemantauan dan pelaksanaan kebijakan KTR.
3. Keikutsertaan dalam bimbingan, penyuluhan serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang KTR
4. Pemberian peringatan atau teguran kepada perokok untuk tidak merokok di KTR.
5. Pemberitahuan kepada pimpinan dan atau penanggung jawab KTR jika terjadi pelanggaran.
(Yuni Firdaus)

Pelajaran dari Riwayat Merokok Pasien Covid-19 di Solo

Empat dari pasien positif Covid-19 yang meninggal di Surakarta diketahui memiliki riwayat perokok atau penyakit penyerta (komorbid). Meskipun bukan menjadi satu-satunya penyebab, namun konsumsi rokok bisa menjadi faktor pemicu risiko penyakit bawaan seperti pneumonia, hipertensi, gangguan jantung, dan diabetes.

Penyakit-penyakit bawaan inilah yang dalam berbagai kasus memperparah kondisi pasien Covid-19. Terkait konsumsi rokok, Kepala Dinas Kesehatan Surakarta, Dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes. MH, menyampaikan bahwa persentase cakupan keluarga yang tidak merokok sejak tahun 2016 hingga 2019 terus naik. Akan tetapi presentase tersebut hanya berhenti pada angka 56,7% saja, artinya masih ada 43,3% keluarga di Surakarta yang merokok.

Hal tersebut memunculkan keprihatinan dari Dinas Kesehatan. Dampak rokok diyakini membuat tubuh seseorang rentan penyakit, terlebih di tengah pandemi Covid-19 yang belum bisa diketahui kapan berhenti.

“Memang sulit untuk bisa memberi pengertian kepada para perokok, padahal merokok menjadikan para penggunanya lebih rentan terjangkit virus Covid-19,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, dalam diskusi daring Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Tengah Pandemi Covid-19, Jumat (5/6).

Berdasarkan penelitian Center for Tobacco Research and Education Department of Medicine University of California, San Francisco, papan Siti, perokok memiliki risiko 2,25 kali lipat lebih besar terjangkit Covid-19. Hal tersebut pada umumnya disebabkan para perokok sudah bermasalah dengan paru-paru mereka.

“Bahkan salah satu gejala Covid-19 adalah pneumonia. Ditambah lagi dengan banyaknya kontak jari tangan dan bibir ketika mengisap rokok sehingga membuat virus lebih mudah masuk ke tubuh,” papar sosok yang akrab disapa Bu Ning itu.

Dalam diskusi tersebut, Siti juga menampik kabar yang beredar bahwa rokok mampu menghindarkan penggunanya dari bahaya penularan Covid-19. Hal tersebut ditegaskan Siti dalam pemaparannya.

“Merupakan berita yang tidak dapat dibenarkan jika ada yang bilang bahwa tubuh seorang perokok itu terhindar dari Covid-19. [alasannya] Sebab panas dari asapnya membunuh virus bahkan hingga mampu menyembuhkan, apalagi yang menyatakan bahwa rokok elektrik itu aman. Yang namanya rokok tetaplah berbahaya bagi kesehatan entah itu elektrik atau tidak,” tuturnya.

Di akhir sesi pada pertemuanyang dihadiri kurang lebih 25 audiens, Siti menyampaikan bahwa pihak Dinas Kesehatan merasa tertantang untuk melakukan pengecekan secara lebih intens terhadap riwayat merokok pada pasien Covid-19.

Saat ini tercatat masih ada puluhan orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Namun Dinas Kesehatan belum memiliki data seberapa jauh pengaruh merokok terhadap pasien Covid-19. (Arindya Iryana Putri)

Asap Masih Menyengat di Kawasan Tanpa Rokok Surakarta

Upaya melindungi publik dari asap rokok masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Surakarta di masa pandemi Covid-19. Peraturan Daerah (Perda) No 9/2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Surakarta yang baru disahkan pada Agustus 2019 juga belum efektif berjalan.

Ruang publik yang menjadi sasaran penerapan Perda KTR antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat umum.

Jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19 dan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Surakarta, ada beberapa persoalan selama proses penerapan Perda KTR. Ada berbagai pelanggaran di KTR yang ditemukan oleh Yayasan Kakak dalam monitoring bersama Forum Anak Surakarta dan Pendamping Forum Anak.

Salah satu temuan dalam monitoring itu adalah masih adanya jejak aktivitas merokok di 81% dari 10 sekolah yang dipantau. Masih terdapat puntung rokok dan bau asap rokok meskipun terdapat tanda dilarang merokok.

“Iklan rokok ditemukan pada ruang pendidikan kegiatan belajar mengajar, di mana pedagang juga tetap melayani pembeli dari anak-anak,” papar Shoim Sahriyati dari Yayasan Kakak.

Data itu juga menunjukkan 56% aktivitas merokok terjadi di pintu keluar masuk sekolah. Selain itu sebagian aktivitas merokok dilakukan di tempat khusus merokok.

Keluarga Tak Bebas Rokok

Selain aturan KTR yang belum efektif berjalan, rumah-rumah warga juga banyak yang belum bebas dari asap rokok. Data Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Kota Surakarta menunjukkan masih terdapat 43% keluarga yang belum bebas asap rokok. Artinya, masih ada perokok dalam keluarga-keluarga tersebut.

PP No. 59/2019 tentang Penyelenggaraan Koordinasi Perlindungan Anak mensyaratkan ketersediaan kawasan tanpa rokok dan larangan iklan, promosi, dan sponsor rokok untuk mewujudkan Kota Layak Anak. Satu dari sedikit daerah yang memiliki Perda KTR adalah Kota Surakarta meski baru akan diterapkan secara efektif pada Agustus mendatang.

“Secara prinsip, kita melindungi perokok pasif sembari mengintervensi ruang gerak perokok aktif,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, dalam diskusi daring bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020).

Setelah disahkan, sosialisasi Perda KTR terus digencarkan oleh Dinas Kesehatan yang dimulai dari UPT Puskesmas. Sosialisasi dilanjutkan oleh masing masing kepala organisasi perangkat daerah, penanggung jawab fasilitas layanan kesehatan, organisasi profesi kesehatan, persatuan apotek, klinik kesehatan, perwakilan agama, kepala stasiun dan terminal, televisi, radio, perguruan tinggi, pusat berbelanjaan, dan lain lain. (Firdaus Ferdiansyah)

Ada Perokok, Banyak Keluarga di Solo Rentan Terinfeksi Covid-19

Penerapan Peraturan Daerah (Perda) No 9/2019 Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Surakarta, Jawa Tengah, dinilai masih belum efektif. Masih banyakanya pelanggaran larangan merokok yang dilakukan oleh masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 di Kota Surakarta memperburuk keadaan. Tercatat sebanyak 4 pasien telah meninggal dunia akibat Covid-19 dan di antara mereka diidentifikasi memiliki riwayat sebagai perokok.

“Pada masa pandemi saat ini sudah tercatat sebanyak 34 pasien positif Covid-19 di Kota Surakrta, dan 4 di antaranya telah meninggal dunia dan diindentifikasi memiliki latarbelakang riwayat sebgai perokok,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, dalam diskusi daring bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020).

Menurut data Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) Kota Surakarta, persentase keluarga yang tidak merokok masih cukup berimbang dengan keluarga yang terdapat perokok. Pada tahun 2015 hanya terdapat 55,2 % keluarga yang tidak merokok. Sedangkan pada tahun 2016 terdapat penurunan persentase keluarga tidak merokok menjadi 54,03%.

Berikutnya persentase keluarga tidak merokok kembali meningkat pada tahun 2019 menjadi 56,7%. Meskipun ada peningkatan namun, persentase ini dianggap masih sangat mengkhawatirkan.

“Masih ada sekitar 43,3% keluarga di Surakarta yang masih merokok. Jumlah tersebut masih belum memuaskan melihat tujuan dibuatnya perda ini untuk mewujutkan KTR yang bersih, sehat, aman dan nyaman bagi masyarakat kota Surakarta,” ujar Siti.

Siti juga berharap adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat terkait bahaya merokok. Khususnya pada masa pandemi, aktivitas merokok juga sangat berpengaruh besar pada kesembuhan pasien Covid-19.

“Pada tahun 2020 saat ini presentase kelurga yang tidak merokok ada dikisaran 70%. Saya berharap pada tahun 2023 nanti saat saya sudah pensiun, target kelurga tanpa rokok di Kota Surakarta bisa sampai 100%. Tentunya hal ini bisa terwujud jika ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menerapkan KTR di kota Surakarta secara maksimal,” pungkasnya.

Anak-Anak Rentan

Dalam diskusi yang sama, Direktur Yayasan Kakak Surakarta, Shoim Sahriyati, memaparkan ancaman rokok terhadap anak-anak, baik sebagai perokok pemula maupun dampak keselamatan mereka. Pada 2019 terdapat peningkatan perokok pemula atau remaja sebesar 9,1%.

“Pada akhir tahun 2019 juga sempat dilakukan kegiatan Pungut Putung Roko di KTR kota Surakrta dan hasilnya kami bisa mengumpulkan 1.830 putung rokok hanya dalam waktu 1 jam,” ujar Shoim Sahriyati dalam diskusi itu.

Masih tingginya persentase perokok di Kota Surakarta, kata dia, semakin memperburuk keadaan pada masa pandemi saat ini. Pasalnya orang yang merokok memiliki resiko 2.25 kali lipat lebih besar terkena Covid-19 dibandingkan orang yang tidak merokok.

Data ini merujuk pada penelitian dari Center for Tobacco Control Reseacrh and Education Departement of Medicine, University of California San Frasisco. Penyakit berat akibat merokok, seperti penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru kronis, kanker dan diabetes juga dapat meningkatkan komplikasi pada penderita Covid-19. (Septian Refvinda)

Membumikan Jurnalisme Damai, Memelihara Keberagaman