Dari Tembakau Lintingan Sampai Habiskan Rp1 Juta Per Bulan

Kalimat optimistis menjadi saksi perubahan Misyam (bukan nama sebenarnya) untuk berhenti merokok. Kebiasaan yang sudah ia lakukan semenjak duduk di kelas 7 SMP ini, terpaksa harus ia hentikan lantaran kondisi kesehatannya yang terus menurun akibat mengonsumsi rokok. Keinginan kuat untuk berhenti merokok membuatnya berpisah dengan benda lintingan kecil tembakau tersebut.

Karena pandemi Covid-19, penulis menghubungi Misyam melalui aplikasi WhatsApp pada Rabu (17/6/2020) malam. Lelaki muda berusia 20 tahun itu menceritakan pengalaman perubahan dirinya. Sesekali, terselip kalimat bernada kegembiraan karena perubahan dirinya yang lebih baik.

Lelaki muda yang sedang mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di salah satu Perguruan Tinggi di Surakarta ini, menceritakan proses perubahannya yang panjang. Misyam masih ingat awal mula mengenal lintingan rokok karena ajakan teman-teman sebayanya.

Kebiasaan itu terus berlangsung hingga kuliah. Misyam mengaku, dalam sehari, lelaki yang aktif di UKM Teater itu, dapat menghabiskan sebanyak 34 batang rokok per hari. Misyam seakan-akan menceritakan kisah pahitnya ketika ia menjadi pecandu rokok.

Ketika itu, Misyam dapat menghabiskan Rp50.000 sehari hanya untuk memuaskan hasratnya akan rokok. Nominal tersebut, ia habiskan setelah membeli 2 bungkus rokok yang menjadi kesukaannya. Dengan begitu, uang lebih dari Rp1.000.000 per bulan Misyam habiskan hanya untuk sebat sana-sini.

Jumlah itu tak berarti apa-apa bagi seorang Misyam yang kesehariannya masih disokong oleh orang tuanya. Hingga saat ini, ia masih menjadi anak tunggal, tak memiliki adik atau kakak.

Suatu hari, Misyam merasa kesehatannya menurun bahkan dapat dikatakan parah karena beberapa efek rokok yang ia rasakan. “Kesehatan saya, sering mimisan, saya pernah muntah darah. Terus lagi, saya sering lemes.” katanya.

Dari situ, tumbuh keinginan kuat untuk berhenti merokok. Walau pun keadannya cukup mengkhawatirkan, Misyam mengaku tidak memeriksakan diri ke dokter lantaran takut jika kedua orang tuanya tahu. Ia memilih bungkam dan menyimpannya sendiri.

Kepribadiannya ekstrovert, mudah bergaul dengan orang lain, membuatnya harus berjuang keras melepaskan diri dari lingkungan perokok. Secara perlahan namun pasti, ia pelan-pelan bangkit dari jeratan rokok yang syarat akan candu. Untuk melupakan keinginan merokoknya, Misyam bergulat dengan kegiatan-kegiatan positif.

Ia menjadi lebih rajin berolahraga, aktif bermain peran di teater fakultas, dan mengurus ternak burung kenari dan love bird miliknya. Walau keinginan sudah memuncak dan serangkaian kegiatan positif ia lakoni, Misyam mengaku masih tergoda satu dua kali untuk kembali mencicipi rokok. “Kalau mau berhenti itu yang penting niat. Aku kadang kalau pengen, masih juga karena gabisa berhenti merokok yang langsung bener-bener berhenti.” ujar Misyam.

Misyam bernapas lega ketika ia mampu menepis keinginannya untuk merokok. Semua dilakukannya dengan proses panjang dan usaha yang tidak sembarangan. Setelah dapat meminimalisir rokok, hari-hari Misyam semakin cerah, ia merasakan perubahan yang positif seperti kesehatannya yang berangsur membaik dan secara finansial menjadi lebih hemat.

Dulu, lebih dari Rp1.000.000,00 per bulan, Misyam habiskan hanya untuk merokok. Kini, ia mulai menatap masa depan dengan menginvestasikan uangnya pada saham dan membuka tabungan emas di pegadaian. Lebih-lebih, sehabis berinvestasi, Misyam juga mulai bersedekah selama sepekan sekali. (Zalfaa Azalia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *