Pemkot Targetkan Kota Surakarta Bebas Asap Rokok 2023

Pemerintah Kota Surakarta berupaya menerapkan program Kawasan Tanpa Rokok (KTR) untuk melindungi kesehatan masyarakat dari asap rokok. Langkah ini juga dinilai penting untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 yang melanda Kota Solo.

Dinas Kesehatan Kota Surakarta menargetkan secara keseluruhan kawasan bebas asap rokok benar-benar terwujud pada tahun 2023.

Menurut data dari Dinas Kesehatan, presentase cakupan keluarga tidak merokok dari tahun 2015 – 2019 cenderung naik. Pada 2015 ke 2016, sempat terjadi sedikit penurunan dari 55,2% ke 54,03%. Namun angka pada 2017 mengalami peningkatan 2017 menjadi 54, 43%, 2018 sebanyak 55,1%, dan puncaknya 2019 meningkat drastis mencapai 56,7%.

Pemaparan data tersebut memudahkan dalam memantau kenaikan keluarga yang menerapkan program kampung bebas asap rokok. Dari situlah Dinas kesehatan bisa mendata dari 54 kelurahan yang sudah menerapkan program bebas asap rokok sebanyak 34 kelurahan.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, pada 2010 sebenarnya sudah ada aturan KTR. Namun pada saat itu aturan KTR hanya berupa peraturan wali kota (perwali) sehingga tidak ada sanksi pidana bagi pelanggar. Siti mengingatkan bahwa Perda KTR hanya instrumen untuk mendidik masyarakat, sedangkan tujuan akhirnya adalah kesadaran masyarakat.

“Apapun aturan yang dibuat fokus utama adalah kesadaran dalam menciptakan kampung asap rokok mulai dari RT hingga RW. Sehingga peranan masyarakat dalam menjalankan peraturan daerah KTR harus dimulai dari hal yang melibatkan keluarga terlebih dahulu,” kata Siti dalam diskusi online bertajuk Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Yayasan Kepedulian untuk Anak (Kakak) Surakarta, Shoim Sahriyati, mengungkapkan banyaknya anak atau pelajar yang mengonsumsi tembakau. Ini karena masih banyak ditemukan penjual rokok di tempat-tempat umum. Apalagi, kata dia, anak akan terpicu keberadaan iklan sponsor yang masih bebas beredar.

Yayasan Kakak banyak melakukan monitoring terhadap Kawasan Tanpa Rokok. Monitoring itu meliputi terdapatnya ada tidaknya puntung rokok, kerja sama dengan industri rokok, merokok di pintu keluar masuk, penjualan rokok, tanda dilarang merokok, tempat khusus merokok, orang merokok, serta asap rokok dan asbak. Lembaga ini menyoroti kerja sama perusahaan rokok dengan event organizer kegiatan di Solo.

Shoim mengakui bahwa Perda KTR berjuang sudah lama dan berjalan sangat cepat. Salah satu contoh dari keberhasilan kawasan bebas asap rokok Kota Surakarta yaitu Taman Cerdas yang berada di Kecamatan Jebres.

“Perlindungan anak menjadi tugas bersama, masyarakat akan berhasil jika mau mengubah perilakunya. Diharapkan kita kritis monitoring, dan melakukan apa yang bisa kita lakukan. Karena orang tua merupakan pelopor bagi anak-anaknya kelak”, tandasnya. (Fajar Nur Annisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *