aji.solokota@email.com 

aji.solokota@email.com

Ada Perokok, Banyak Keluarga di Solo Rentan Terinfeksi Covid-19

Penerapan Peraturan Daerah (Perda) No 9/2019 Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Surakarta, Jawa Tengah, dinilai masih belum efektif. Masih banyakanya pelanggaran larangan merokok yang dilakukan oleh masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 di Kota Surakarta memperburuk keadaan. Tercatat sebanyak 4 pasien telah meninggal dunia akibat Covid-19 dan di antara mereka diidentifikasi memiliki riwayat sebagai perokok.

“Pada masa pandemi saat ini sudah tercatat sebanyak 34 pasien positif Covid-19 di Kota Surakrta, dan 4 di antaranya telah meninggal dunia dan diindentifikasi memiliki latarbelakang riwayat sebgai perokok,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Siti Wahyuningsih, dalam diskusi daring bertema Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Masa Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020).

Menurut data Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) Kota Surakarta, persentase keluarga yang tidak merokok masih cukup berimbang dengan keluarga yang terdapat perokok. Pada tahun 2015 hanya terdapat 55,2 % keluarga yang tidak merokok. Sedangkan pada tahun 2016 terdapat penurunan persentase keluarga tidak merokok menjadi 54,03%.

Berikutnya persentase keluarga tidak merokok kembali meningkat pada tahun 2019 menjadi 56,7%. Meskipun ada peningkatan namun, persentase ini dianggap masih sangat mengkhawatirkan.

“Masih ada sekitar 43,3% keluarga di Surakarta yang masih merokok. Jumlah tersebut masih belum memuaskan melihat tujuan dibuatnya perda ini untuk mewujutkan KTR yang bersih, sehat, aman dan nyaman bagi masyarakat kota Surakarta,” ujar Siti.

Siti juga berharap adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat terkait bahaya merokok. Khususnya pada masa pandemi, aktivitas merokok juga sangat berpengaruh besar pada kesembuhan pasien Covid-19.

“Pada tahun 2020 saat ini presentase kelurga yang tidak merokok ada dikisaran 70%. Saya berharap pada tahun 2023 nanti saat saya sudah pensiun, target kelurga tanpa rokok di Kota Surakarta bisa sampai 100%. Tentunya hal ini bisa terwujud jika ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menerapkan KTR di kota Surakarta secara maksimal,” pungkasnya.

See also  Peningkatan Kasus Pneumonia Anak, Bukti Perlu Implementasi KTR di Solo

Anak-Anak Rentan

Dalam diskusi yang sama, Direktur Yayasan Kakak Surakarta, Shoim Sahriyati, memaparkan ancaman rokok terhadap anak-anak, baik sebagai perokok pemula maupun dampak keselamatan mereka. Pada 2019 terdapat peningkatan perokok pemula atau remaja sebesar 9,1%.

“Pada akhir tahun 2019 juga sempat dilakukan kegiatan Pungut Putung Roko di KTR kota Surakrta dan hasilnya kami bisa mengumpulkan 1.830 putung rokok hanya dalam waktu 1 jam,” ujar Shoim Sahriyati dalam diskusi itu.

Masih tingginya persentase perokok di Kota Surakarta, kata dia, semakin memperburuk keadaan pada masa pandemi saat ini. Pasalnya orang yang merokok memiliki resiko 2.25 kali lipat lebih besar terkena Covid-19 dibandingkan orang yang tidak merokok.

Data ini merujuk pada penelitian dari Center for Tobacco Control Reseacrh and Education Departement of Medicine, University of California San Frasisco. Penyakit berat akibat merokok, seperti penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru kronis, kanker dan diabetes juga dapat meningkatkan komplikasi pada penderita Covid-19. (Septian Refvinda)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

aji.solokota@gmail.com