aji.solokota@email.com 

aji.solokota@email.com

Bayang-Bayang Pneumonia Anak di Kota Ramah Anak

Meski dikenal sebagai Kota Ramah Anak, Surakarta nyatanya masih dibayang-bayang soal pneumonia yang menyerang anak-anak. Kasus pneumonia anak di Surakarta pada tahun 2018 meningkat sekitar 47% menjadi 346 kasus dibanding tahun sebelumnya 234 kasus.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus pneumonia anak naik signifikan pada 2018. Pada 2017, jumlah kasus pneumonia anak di Kota Surakarta yang dilaporkan mencapai 234 kasus. Padahal pada 2016 hanya ada total 5 kasus yang dilaporkan puskesmas dan rumah sakit. Sedangkan pada 2015 jumlah kasus pneumonia sebanyak 42 kasus, 2014 sebanyak 9 kasus, dan 2013 sebanyak 32 kasus.

Jika dibandingkan dengan kasus-kasus lain, jumlah kasus pneumonia anak tergolong tinggi. Pada 2018, jumlah kasus TB dan pneumonia anak di Kota Surakarta hanya kalah oleh hipertensi, diare, dan obesitas.

Meski tidak ada data yang menyebutkan secara rinci penyebab dan latar belakang seluruh kasus pneumonia anak tersebut, hal ini menunjukkan sedikitnya ratusan anak di Solo menjadi sangat rentan. Berbagai literatur menyebutkan asap rokok meningkatkan risiko pneumonia.

Paparan dr. Rizal Fadli di laman Halodoc.com, 23 Desember 2019, menyebutkan perokok yang mengisap lebih dari 38 bungkus per tahun memiliki risiko terkena pneumonia lebih dari 3,15 banding 1. Risiko mantan perokok pun hampir sama dengan perokok aktif, yaitu sekitar 2,14 banding 1. Jika perokok berhenti, setidaknya memasuki waktu 5 tahun, risiko pneumonia akan berkurang.

Tidak hanya di dalam rumah, di ruang publik pun anak anak kerap menjadi korban dari sesaknya asap rokok. Beberapa diantaranya bahkan menjadi perokok aktif. Ini membuat penegakan Peraturan Daerah (Perda) Kota Surakarta tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) harus lebih digalakkan lagi.

See also  Masih Ada Asap Rokok di Kampus Hijau

Saat ini, pneumonia menjadi salah satu penyebab kematian pada anak tertinggi di dunia. Perkiraan World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa penyakit ini menjadi pemicu 16% kematian lebih dari anak berumur dibawah lima tahun (balita). Biasanya, penderita akan mengalami sesak napas, batuk berdahak, dan juga demam. (Firdaus Ferdiansyah – UNS)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

aji.solokota@gmail.com