Pers Alternatif Diharapkan Kawal Kasus PT RUM

SOLO—Pers mahasiswa (persma) di Soloraya dituntut membuat aksi nyata terkait kasus PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo. Pemberitaan pers alternatif dinilai penting untuk mendorong pihak terkait segera menyelesaikan kasus pencemaran lingkungan.

Seruan itu mengemuka dalam diskusi publik Media dan Isu Lingkungan Hidup yang digelar di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo, Rabu (21/3) malam. Diskusi yang dihadiri sekitar 40 peserta dari berbagai elemen ini menghadirkan tiga narasumber yakni Ardan Fathun Niam (Aktivis Sukoharjo Melawan Racun/Samar), Afzal Nur Iman (Ketua Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi HMI Solo) dan Adib Muttaqin Asfar (Ketua AJI Solo).

Aktivis HMI Solo, Afzal, menyoroti peran media mainstream yang belum optimal dalam mengawal kasus PT RUM. Menurut Afzal, pers mestinya tidak setengah-setengah dalam membela kepentingan rakyat kaitannya dalam problem pencemaran lingkungan PT RUM. Yang terjadi selama ini, dia menilai sebagian pers konvensional cenderung main aman dan tidak berusaha menguliti kasus lebih mendalam. “Wartawan seakan tak peduli soal konflik. Yang penting mereka bekerja kemudian rampung,” ujarnya.

Dia menilai peran persma menjadi penting di saat pers umum sulit diharapkan karena terbentur beragam persoalan. Menurut Afzal, persma bisa menjadi media alternatif yang menyuarakan kegetiran warga akibat limbah dan bau busuk dari PT RUM. “Jangan takut turun dalam polemik,” kata dia.

Salah satu peserta diskusi yang juga pengelola kanalbaca.com, Bukhori, mempertanyakan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Solo yang tak segera bergerak melihat fenomena PT RUM. Padahal PPMI Solo dianggap berpotensi karena memiliki anggota sekitar 30 lembaga pers mahasiswa (LPM) di Soloraya. Di daerah lain, dia menyebut PPMI langsung bergerak dengan aktivis jika terjadi problem lingkungan hidup. “Kenapa di Solo justru belum ada gerakannya. Saat saya tanya aktivis, ada tidak anggota persma yang mendampingi, mereka bilang tidak ada,” kata Bukhori.
Ketua PPMI Solo, Rizki Hidayat, menampik PPMI berpangku tangan dalam kasus PT RUM. Dia mengatakan kasus PT RUM sudah dibahas dalam forum antarpemimpin umum Persma. PPMI kemudian berinisiatif membikin diskusi yang melibatkan AJI Solo. “Kemarin sempat ada opsi persma ikut turun ke jalan, tapi akhirnya disepakati pembuatan diskusi. Setelah ini juga kami lanjutkan dengan pemberitaan,” ujarnya.

Pihaknya mengakui kesulitan mendapat data dan kajian mendalam untuk disusun sebagai bahan pemberitaan komprehensif. Dia tak ingin PPMI hanya menjadi corong propaganda kelompok tertentu dalam kasus PT RUM. “Kami harus bisa membedakan antara menyuarakan kepentingan kelompok atau kepentingan kemanusiaan.”

Ketua AJI Solo, Adib Muttaqin Asfar, menjelaskan hampir semua media lokal sudah mengawal kasus PT RUM sejak Oktober 2017. Dia tak menampik setiap jurnalis punya sudut pandang sendiri dalam menulis kasus. “Yang jelas jurnalis harus berpihak pada kebenaran. Terkait keberpihakan, lagi-lagi kembali pada hati nurani,” katanya.

Aktivis Sukoharjo Melawan Racun, Ardan, mengatakan operasional PT RUM sudah bermasalah sejak awal. Dia menilai sosialisasi dan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pabrik penghasil serat rayon itu tidak transparan. “Warga tahunya itu pabrik tekstil biasa, ternyata produksinya bikin limbah seperti ini. Baunya sudah seperti bau dari septic tank.” (Farida Trisnaningtyas/Chrisna Chanis Cara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *